Wednesday, 16 May 2018

Loving Yourself as Your Own Home❤

The biggest mistake that we make is that we build our homes in other people. We build those homes and we decorate them with the love and care and respect that we want to come home to at the end of the day. We invest in homes in other people, and we evaluate self-worth based on how much those homes welcome us. And when those people walk away, those homes walk away with them, and all of a sudden, we feel empty because everything that we had within us, we put in those homes. We trusted someone else with pieces of us. That emptiness that we feel doesn't mean that we have nothing to give, or that we have nothing within us. It's just that we built our home in the wrong place.
―Najwa Zebian


Selama saya hidup, 24 tahun, saya belum pernah mengenal yang namanya self-love. Saya tumbuh jadi anak yang biasa menyenangkan orang, menghindari konflik; sehingga seringkali saya mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri saya sendiri. Saya cenderung anak yang nggak enakan, apa-apa minta maaf kalau ngerasa nggak enak. Termasuk dalam hal menilai diri sendiri, saya terbiasa mendapatkan pujian dari orang lain, tidak pernah memuji diri sendiri. Bahkan saya seringkali rendah diri (atau merendah) biar 'enak'.

Saya baru mengenal self-love baru-baru ini. Karena quotes dari Najwa Zebian di atas, saya menyadari hal yang baru ini saya harus pelajari karena saya kehilangan arah untuk 'pulang'.

Home isn’t a place. Home is anywhere, just as long as the people you love are there.

 ―Kristen Ashley

'the people you love' di atas, nggak pernah termasuk diri saya sendiri. Saya menempatkan diri saya ya sebagai saya yang love other people, subjek bukan objek, bukan sebagai pribadi yang harus dicintai juga. Nggak pernah!

Yang saya tau, yaa self-love itu: 
  1. the instinct by which one's actions are directed to the promotion ofone's own welfare or well-being, especially an excessive regard for one's own advantage
  2. conceit; vanity
  3. narcissism

http://www.dictionary.com/browse/vanity

Selama ini, menurut saya itu suatu keegoisan, narsis! Sampai akhirnya saya sadar kalo yang akan selalu ada ya diri kita sendiri. Selama ini saya selalu menghargai diri saya berdasarkan apa yang orang lain katakan, orang yang saya taro sebagai prioritas saya, sebagai 'main home', sehingga saya harus nunggu dulu dia bilang saya cantik, baru saya merasa cantik; saya pengen terlihat cantik cuma buat orang itu, bukan untuk diri saya sendiri, sehingga saat saya nggak dibilang demikian, saya merasa nggak cukup cantik. Demikian halnya dengan pekerjaan, saat saya ngerasa nggak bagus, ya saya akan minta maaf abis-abisan karena (saya merasa) mengecewakan orang lain; tapi saat saya mengerjakan sesuatu yang excellent buat saya, saya tetep nunggu orang lain bilang bagus, barulah itu bagus buat saya, kalo nggak, ya berarti nggak jadi bagus. Ini salah satu masukan dari bos magang saya, kurang-kurangin deh minta maaf, ganti dengan 'Saya akan berusaha lebih baik lagi kalau dikasih kesempatan selanjutnya.' "Soalnya kerjaan kamu nggak sejelek itu kok," katanya.

Iya, saya menghargai diri saya tidak setinggi yang seharusnya.

Ini saya rasakan sebagai titik balik, mengenal diri, mencintai diri sendiri nyatanya memang perlu, biar kebahagiaan kita nggak terbatas pada apa yang diberikan orang lain aja, tapi juga apa yang kita sendiri kasih ke diri kita. Kita bisa cinta sama orang lain segitunya, masa nggak bisa unconditionally love ourselves?

Mulai dari sini saya mulai banyak denger/ baca tentang how to love myself. Salah satunya ini Love Yourself. Sejak saat itulah saya mulai bisa menerima kalau saya worth it. (Masih belajar buat bikin ini terdengar ga sombong lol)


Membuat tulisan ini merupakan salah satu bentuk nyata saya mencoba loving myself. Kenapa? Karena di tulisan ini saya kayak kasihtau kekurangan saya, hal yang mungkin jadi salah satu dark side saya, yet one step of loving-yourself game is how to embrace your dark side. 

You are a human. Sometimes you’re stormy. Sometimes you’re placid. Sometimes you’re in between. You can’t be any other way. And that’s perfect.

Well, ini salah satu pelajaran yang menyenangkan banget. Suatu hal baru yang nggak pernah saya sadari saya butuhkan, sampai saya ditunjukkan ini di titik rendah dalam hidup saya. Kapan-kapan cerita tentang ini lagi yaa hehe mau tarawih pertama :') alhamdulillah.

Selamat puasa semuanya. Semoga puasa dan ibadah lainnya lancar, berkah, dan menyenangkan.

Love,
Nazmun❤

Image result for love yourself first quote

Friday, 11 May 2018

911 #3

Dear, my future son(s), daughter(s) / grandchildren / grandgrandchildren💖

Entah kenapa ya, 3 hari berturut-turut saya selalu dapet pasien emergency pas lagi (bahkan ga lagi) pelayanan. Hari ini pas saya lagi mau periksa pasien poli tiba-tiba temen saya bilang, "Mun, ruang tindakan."

What the... kenapa lagi, siapaaah...

Ternyata balita C, laki-laki, 13 bulan jidatnya berdarah-darah 😓 kepentok ujung tembok, luka terbuka ukuran 1x0,1x0,1 cm, dasar bersih, masih mengalir sedikit darah, lagi ditekan pake kapas sama bapaknya. Bapaknya menceritakan kejadiannya dan (yang saya tangkep) sedikit menyalahkan ibunya.

"Iya Dok, ibunya gantian jagain, saya lagi di dapur cuci piring (so kyut, love hearing a husband does domestic task) tiba-tiba udah kepentok ujung tembok."

Ibunya dari luar ruang tindakan cuma istighfar dan gamau masuk, ngga tega katanya. Untung bapaknya lagi nggak kerja.

Saya membersihkan luka pasien dengan normal saline dan kassa, yaa seperti saya biasa lah ya, tega (wkwk). C udah nangis-nangis kayak apaan, saya bersihin sambil liat sedalem apa, dalem ternyata. Ah, mager banget mesti jahit (tapi dalam hati, iya ini kesempatan belajar!)

Dokter pembimbing saya dateng dan ngeliat lukanya, "Iya, jahit 1 aja ya."

Nggak lama kemudian perawat dateng. "Oiya, bisa ini, Dok, satu aja. Dokter ya yang kerjain."

"Hehe mbak ajadeeeh, takut."

"Nggak, Dok, bisa."

Saya beruntung banget di lingkungan yang supportif gini, terutama buat saya yang takutan.

Dimulailah drama ini. Anaknya teriak-teriak meronta-ronta saat saya aseptik. DUH!

"Ini, Dok jarumnya. Di tengah aja, Dok, masukin dalem ya."

Degdegdeg.... 

Rasanya nusukin jarum ke kulit beneran... ya gitu ya. Anaknya meronta-ronta (yaiyalahya ga dilido wkwk ya abis dilido suntik lagi kan), jarumnya belom keliatan keluar wkwk duh pokoknya tangan saya udah merinding disko deh.

Sampe akhirnya jarumnya berhasil keluar. YES!

"Dok, ini bukan ujian, Dok, gemeter banget."

HEHE😅

Oiya, saya sebelumnya pernah hecting, tapi di perineum dan cuma 1 jahitan doang juga. Pas bedah cuma observvvv hhh dasarnya belom rejeki.

Saya suka banget pegang alat, suka banget sama ngejahit-jahit gini, hehe semoga bisa jadi dokter yang ada bedah-bedahnya, aamiin.

Akhirnya drama selesai. Anak C ini akhirnya capek sendiri bahkan sampe tidur saking capeknya nangis.

Alhamdulillah... alhamdulillah. Emang cuma Allah yang bisa kasih rejeki dan kasih kekuatan, kelancaran buat bantuin orang.

Selamat liburr💋

Yours truly,
Nazmun❤

Thursday, 10 May 2018

911 #2

Dear, my future son(s), daughter(s) / grandchildren / grandgrandchildren💖

9 April 2018, pukul 08.00
Cerita kedua datang dari seorang ibu, Ibu B usia 39 tahun, datang dengan keluhan utama nyeri kepala bagian belakang seperti dipukul-pukul sejak tengah malam, yang memberat saat pasien datang ke Puskesmas kelurahan.

Saat itu, saya sedang bersiap-siap menuju ke lantai 2 untuk mempersiapkan vaksin. Saya bertugas pergi ke Posyandu pagi itu. Karena saya sedang tidak bertugas di pelayanan poli umum, saya hanya melewati Ibu B yang sedang menangis sambil menutup mata dan merintih kesakitan. Keluarganya (yang belakangan diketahui adalah tetangganya) sedang mendaftarkan pasien.

((saya males kalo nyamperin berarti saya harus pegang pasiennya, padahal bukan giliran saya. Terus sambil naik tangga saya mikir, Astagfirullah kok bisa-bisanya ngelewatin pasien lagi kesakitan gitu, di mana sih perasaannya.))

Akhirnya saya kembali menghampiri pasien dan meminta pasien masuk ke ruang tindakan. Dokter pembimbing saya juga datang (rintihan pasien memang cukup terdengar sampai ke ruang poli). Saya periksa tanda-tanda vital pasien. Kesadaran compos mentis, tensi 150/80, nadi 92x/menit, respirasi 20x/menit, suhu 38,9०C, skala nyeri 8, saturasi 99. Saya assess tanda kegawatan, tidak ada rangsang meningen, kelemahan anggota gerak ataupun bicara rero, tidak ada refleks primitif, tidak ada keluhan penglihatan buram, mual muntah. Oke, mungkin memang ke arah infeksi.

Karena pasien masih bisa teriak-teriak dan bisa bangun untuk minum obat, saya memberikan parasetamol 500 mg. Melonggarkan baju pasien, meminta pasien tenang, tarik napas lewat hidung, keluarkan lewat mulut; berhenti menangis.

Saya mulai anamnesis. Pasien datang dengan keluhan nyeri kepala berat pada bagian belakang seperti dipukul-pukul sejak tengah malam, sudah diberikan parasetamol, nyeri berkurang. Pagi sebelum datang ke Puskesmas, keluhan kembali memberat sehingga pasien meminta tetangganya menemani ke Puskesmas. Keluhan disertai demam sejak 2 hari yang lalu, muncul mendadak. Tidak ada keluhan mual-muntah, batuk, pilek, BAB cair, nyeri saat BAK, kejang, mimisan, gusi berdarah, bintik-bintik merah di kulit. Keluhan nyeri kepala seberat sebelumnya tidak pernah dialami. Riwayat nyeri kepala hilang timbul +/-5 bulan, dirasakan semakin memberat (ini meragukan sih karena data medrek pasien tidak berobat untuk nyeri kepala, namun vertigo. tapi saya sempet mikir jangan-jangan tumor intrakranial😅).

15 menit berlalu, pasien mulai mengeluarkan keringat, suhu turun 36,9०C, tensi bagus 120/70. Saya tanyakan kembali berapa skala nyeri kepalanya, pasien berkata (sambil nangis, tapi sudah mulai bisa membuka mata lebar-lebar), "Masih Dok, masih sama seperti saya datang. Kenapa ya, Dok, saya sakit apa ya, Dok? Saya nggak punya siapa-siapa, anak saya di Surabaya." (padahal sebelumnya beliau bilang pagi tadi mendingan jadi suami saya berangkat ke kantor, jadi kan punya suami ya😅)

"Bu, kami masih menilai kondisi Ibu, untuk sejauh ini kemungkinan karena infeksi karena ibu mengalami demam. Ibu jangan sambil nangis, nanti makin nyeri kepalanya." Saya berkata menenangkan.

"Bude, mau ditelepon Pakde nggak, biar pulang nemenin Bude?" Tetangganya yang mengantar bilang.

"Boleh, Nduk. Hpnya ada di rumah, di atas meja, tolong bilangin yaaa (masih menangis)."

Saya mengusulkan pemeriksaan darah lengkap. Hasilnya Hb, Ht bagus, leukosit 6000, trombosit 168.000. Pas-pasan, makin kuat dugaan ke arah Infeksi Dengue (terutama setelah salah seorang sejawat saya bilang, "Wah dulu gue dengue nyeri kepala banget emang, nggak pernah gue rasain yang nyeri kayak gitu.")

Iya. Saya baru nyadar ambang nyeri orang beda-beda. Dari awal pasien datang, saya menganggap ini thunderclap headache, langsung kepikirannya wah ini jangan-jangan stroke, atau jangan-jangan meningitis.

Saya diskusi sama pembimbing saya. Kami setuju pasien tidak perlu dirujuk, hanya perlu diobservasi melalui pemeriksaan darah serial untuk berjaga-jaga siapa tau trombositnya makin turun, mengingat demam belum mencapai hari ketiga.

Saya kembali ke pasien. Saya tanyakan kembali skala nyerinya, beliau masih juga menangis dan bilang masih sama, sambil menunjukkan ketakutan akan penyakit tertentu.

Saya edukasi pasien. Saya menjelaskan hasil lab kemudian menyampaikan sejauh ini mengarah ke infeksi dengue, infeksi ini dapat dilawan sistem imun kita, jadi PR ibunya adalah mencukupi nutrisi, minum, dan istirahat. Saya juga menyampaikan apabila keluhan kembali dirasakan sebaiknya pasien datang ke IGD (bukan ke Puskesmas kelurahan 😅) dan diperiksa ulang darahnya sekitar 6-8 jam lagi. Nanti kita tunggu suami ibu ini datang, kemudian ibu bisa istirahat di rumah. Apabila nyeri kepala masih ada setelah demam turun, atau semakin memberat, ibu bisa meminta rujukan ke poli saraf. Ditambah bumbu-bumbu menenangkan namun tetap waspada ala dokter-dokter lainnya, ibu ini akhirnya mulai berhenti menangis dan bilang skala nyerinya 5. Wow, the power of words.

Suaminya datang dan kami edukasi ulang. Pasien akhirnya pulang.

Well, pelajaran sih. Ambang nyeri orang beda-beda, ketakutan orang akan penyakitnya juga berbeda-beda, bahkan definisi nggak punya siapa-siapa juga beda 😅😆 jadi jangan ngejudge!

Selamat hari libur (kejepit) nasional 😪

Cheers,
Nazmun❤

L’idée #2

Sometimes we tend to fake the smile, in order to hide the sadness; why couldn't we fake our sorrow to conceal our joy?
❤(maybe) in order to make people don't feel bad about themselves? 

L’idée #1

Sudah, sudah bisa memaafkan. Tapi, seperti dia yang nggak bisa menyalahkan perbuatannya, saya pun nggak bisa membenarkan yang sudah dia lakukan.

Wednesday, 9 May 2018

911 #1

"Hello, 911, what's your emergency?" 

Potongan dialog di salah satu film favorit saya, The Call. Ceritanya sih tentang petugas 911, ngga nyambung-nyambung banget sih sebenernya -mengingat saya ngga akan cerita tentang perampokan juga- tapi mulai dari sekarang (yaa, again doakan saja istiqomah) saya akan ceritain kasus yang saya temukan dengan setting emergency, melalui label ini.

Postingannya akan berisi banyak jargon medis, akan menceritakan kejadian nyata mengenai pasien yang saya temui yang membekas, disertai drama juga tentunya. Insya Allah tidak menyalahi etika yaa soalnya kan nggak ada identitasnya. Saya menuliskan buat anak/ cucu/ cicit saya nantinya (haha! siapa tau ada yang mau jadi dokter).

Dear, my future son(s)/ daughter(s)// grandchildren // grandgrandchildren.

Sebelum masuk ke cerita pertama , saya perlu nulis di sini, bahwa saya lagi jatuh cinta banget sama pekerjaan saya. HAHA (agak geli ngetiknya, but surprisingly, it's real!). Saya ngerasa bersyukur, bukan cuma karena bisa (insya Allah bermanfaat) tapi karena ternyata ini passion saya. Dulu saya sempet sangsi, emang bener ya ada yang namanya passion? Gimana caranya kita bisa nemuin passion? Ya kerjaan mah kerjaan aja. Tapi ternyata, saya mulai ngerasain itu. Ngeliat orang seneng, cuap-cuap panjang lebar, dibilang makasih sambil disenyumin seraya disalamin (wah percayalah, Nak, ini priceless banget asli); kok seneng ya? Banget. Or at least (kalo emang prematur banget bilang kayak gini saat belum jaga IGD), saya ngerasa bukan di jalan yang salah. Allah menempatkan saya di sini karena tau saya kalo di tempat lain belum tentu bisa.

Well, semoga kamu merasakan ini ya kalo emang jadi dokter hehe.

Yak, kita masuk ke cerita pertama.
8 April 2018; Pukul 14.30.

Settingnya saya sedang nonton TedTalks (recent fav on Youtube) sambil senyum-senyum di Poli Umum, senderan, seperti biasa nunggu jam pulang.

Datang pasien seorang bayi perempuan, By. A 5 bulan dibawa ibu (dan kakek)nya ke Puskesmas Kelurahan (Puskesmas tanpa IGD dan tempat perawatan). Ibunya cuma bilang, "Ini anak saya kayak gini, matanya ngeliat ke atas terus daritadi."

Saya sudah familiar sama ibunya karena kemarin dan tadi pagi ke Puskesmas. Ibunya usia 16 tahun (diketahui belakangan). Kemarin pasien ditangani oleh teman saya, pagi ini juga bukan saya yang pegang. Saya cuma tau pertama kali datang keluhannya demam, pilek baru tadi pagi; keesokan harinya (pagi sebelum kejadian) pasien dibawa lagi dengan keluhan yang sama; akhirnya dibuatkan pengantar periksa lab darah lengkap. Teman saya ngeluh ibunya ini kurang kooperatif, susah banget dianamnesis seolah-olah emang bukan dia yang ngerawat dan banyak defensif! Saat ditanya jawabannya kebanyakan normatif, biar ngga disalahin gitu.

Sore itu, saya dan teman-teman (yang juga lagi nyantai-nyantai) langsung menghampiri pasien dan meminta pasien dibaringkan di ruang tindakan. Keadaan umum pasien sopor, denyut jantung 160x/menit, RR 40x/menit, suhu: 42!!!, matanya mendelik ke atas (mirip sunset appearance pada hidrosefalus), tak lama kemudian pasien kejang umum. Saya langsung mencari diazepam rektal serta Paracetamol suppositori, juga nasal canule untuk oksigen. Pasien kejang sekitar 5 menit.

Singkat kata, pasien ditangani sambil terjadi drama antara ibu pasien dengan dokter yang menangani pasien kemarin dan tadi pagi.

"Ibu, tadi kan saya kasih pengantar cek darah lengkap. Dilakukan tidak? Saya tunggu ibu daritadi." kata dokter teman sejawat saya

"Belum Dok, karena nunggu bapaknya, jadi tadi pulang dulu." 

Ternyata By. A belum punya BPJS, jadi pasien umum, sehingga kami berkesimpulan mungkin masalah biaya ya. Tapi menemui hambatan ini ibunya nggak bilang apa-apa, taro pengantar di pendaftaran, trus udah aja pulang.

Ibunya menambahkan, "Bapaknya kerja, ngga pernah nengok anaknya. Tapi ini nggak apa-apa kan ya Dok?"

((Ya menurut Anda aja kira-kira gapapa gitu. Jiwa nyinyir saya udah mulai keluar.))

Ibunya mengaku pasien diberikan ASI, terakhir 2 jam yang lalu, sudah diberikan Paracetamol juga pukul 12, masih pipis juga. HMMMM ini saya dan semuanya meragukan sih.

Pasien kembali kejang, saat mau dimasukkan diazepam kedua, kejang berhenti. Pasien sedang direncanakan dirujuk ke RSUD, pembimbing saya yang mengurus (wa minta acc gitu-gitu).

Akral mulai dingin, akhirnya rencana diinfus, tapi memang karena terbatas peralatannya, tidak ada abocath kecil, jadilah pasien dibawa dulu ke IGD Puskesmas kecamatan (PKC).

Saya pertama kalinya ikut mengantar rujuk. Gendong bayi lemes naik ke ambulans. Turun dari ambulans pasien langsung ditangani oleh dokter PKC. Perawatnya oke banget sih berhasil infus 💪dan pasien diambil darahnya.

Nenek pasien datang. Anamnesis diulang. Jawaban ibu ini masih sama. Bingung-bingung, tidak tegas, dan defensif. Ditanya apakah ada batuk, ibunya bilang tidak ada, neneknya bilang ada. Ibunya ngotot tidak ada, dibentak balik oleh neneknya, "Diem aja kamu, yang urus kan Ibu."


Oh... ternyata ibu ini emang bukan yang ngurus langsung.


Dan ternyata.... anaknya nggak dikasih ASI, anaknya dikasih air putih sama bubur Cerelac sejak 3 bulan😭😭😭😭😭😭😭 (fyi, berat bayi 4,3 kg, berat lahir 2,7 kg)

Mau nangis kan ya.

Pasien belum punya BPJS.
"Iya, bapaknya disuruh buat dari kapan tau nggak dibuat-buat."

Untungnya BPJS buat bayi bisa diusahain 3x24 jam dari perawatan.

(Ternyata ketauan juga lah kalo ibunya ini emang nggak ngurus anaknya langsung, cuma lagi kebetulan main ke rumah neneknya.)

Ibunya nangis sesekali. Abis itu bengong-bengong, duduk (!!!!), nanya: gapapa kan ya dok.

Saya cuma bisa mengelus dada. Untung muka ketutupan masker.

Hasil lab pasien: leukosit 26.000. Iya, sepsis pasiennya.

Berkas rujukan beres, kita langsung cau dengan ambulans menuju RSUD.

Percakapan di ambulans.
Nenek: Udah, mulai sekarang banyak berdoa, sholat yang rajin, jangan main terus. Ya Dok, ya?
Saya: Ya mau bagaimana ya, Bu. Yang bisa nolong memang cuma Allah.
Ibu: (diem aja)

Saya nggak tau gimana perasaan seorang ibu karena saya belum jadi ibu. Tapi saya ngeliat anaknya aja udah beneran yang....... ini anak, titipan dari Allah, nggak ada yang tau gedenya jadi apa loh, ini nggak mau diusahain?

Ngejudge sih, tapi judging saya ke ibu ini udah dari menit pertama saya ketemu.

Singkat kata, perjalanan menuju RS alhamdulillah dibantuin sama pengendara motor yang membantu buka jalan yang lagi super macet. Alhamdulillah, alhamdulillah. Saya ngeliatnya pengen nangis aja gitu, pertolongan Allah emang dekat. Saya beneran nggak mampu apa-apa, cuma bisa melakukan yang bisa dilakukan manusia aja. Ilmu saya baru seujung kuku (mungkin juga gaada???). Nggak ada, emang cuma sedikit.

Oiya, saya ngerujuk sama temen saya yang pegang pasien dari awal. Dia bawa mobil, ikutin ambulans dari belakang (soalnya mau langsung pulang). Saya awalnya beneran ngga kepikir akan melaporkan pasien ini karena ada temen hehe, EH si temen saya kejebak macet :( gagal iring-iringan sama ambulans. Di tengah jalan saya baru ngeh: YHA kalo gitu saya dong yang harus laporin pasiennya kalo-kalo ditanyain sama dokter IGD RSnya. HEHE 😬
Akhirnya saya mulai menyusun kalimat di otak layaknya saya mau laporin pasien saat visbes.

Sampailah di IGD RS. Eh alhamdulillah prosesnya cepet banget. Mungkin karena udah diurus acc via wa ya. Terus kan pasien memang sudah diinfus, pasang nasal canule. Yay akhirnya saya ngga ditanya-tanya hehe cuma ditanya sama perawat aja pasien dengan apa, perawatan hari ke berapa.

Saya pulang. Dengan perasaan campur-aduk. Marah, kesal, pengen mengumpat. Tapi inget lagi, nggak boleh ngejudge, terus ngejudge lagi dalam hati. Iya gitu, sampe malem masih berasa, bahkan tadi pagi😭

Yang ada di pikiran saya: nggak boleh salah nyari partner hidup, harus nyari yang tanggung jawab; nggak boleh jadi istri yang tergantung sama suami; nggak boleh punya anak tapi belom siap apa-apa, termasuk ilmu (!!)

Iya gitu. Ceritanya agak berantakan ya, yaa biar nanti kalo kamu bingung tanya langsung aja yah. Semoga kita bisa ketemu dan bisa saling cerita serunya pasien masing-masing😘

Yours truly,
Nazmun❤


Sunday, 6 May 2018

April

Postingan dengan judul April dibuat di bulan Mei. Iya, saya mau merangkum bulan ini dalam satu tulisan. Insya Allah mulai bulan ini saya akan mulai aktif kembali menulis blog, untuk kenang-kenangan saya, kalau bisa bermanfaat untuk orang lain itu bonus ya hehe. Doakan aja ya semoga konsisten (mengingat saya akhir-akhir ini -ngga deng, seringnya- mager).

April adalah bulan yang diawali dengan tanggal 1 yang sering disebut-sebut April mop. Buat saya, bulan ini memang rasanya seperti 'bohongan ya?' 'bilang ini april mop dong'. Baiklah, kapan-kapan saya bakal cerita soal relationship issues di postingan terpisah 💁-dengan saya yang lebih bijak dan tanpa amarah tentunya-.

🙋Bulan ini saya banyak membaca buku.

Buku yang saya baca adalah Tuesdays with Morrie. Buku ini ditulis oleh Mitch Albom, berdasarkan kisah nyata tentang seorang mahasiswa yang datang setiap selasa ke rumah dosennya yang dying karena suatu penyakit, Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) namanya. Buku ini saya pinjam dari Dea, udah lama banget sampe-sampe selalu lupa udah dibaca sampe mana setiap buku ini saya buka. Oiya, kegiatan saya di bulan April ini masih menjadi dokter internship di Puskesmas kelurahan, jadi siang-siang biasanya memang ada waktu yang cukup buat saya baca buku (dibanding mengerjakan pekerjaan saya, minipro, tentunya haha emang dasar procrastinator💆). Buku ini bagus sekali. Buat orang yang cukup melankolis seperti saya, semua quotes yang ada di dalamnya bisa saya relate ke kehidupan sehari-hari -kehidupan yang mendadak jadi penuh kesedihan, if you know what i mean-. Salah satu dua tema yang sangat bagus adalah tentang emotion dan forgiveness.

#1 Emotion
Morrie sedih. Iyalah ya pasti. Tapi dia selalu bilang kalo ngga boleh membenci kesedihan, denial kalo lagi sedih. Yang harus dilakukan adalah "throwing yourself into emotion, allowing yourself to dive in to experience them fully and completely". Dengan begitu, kita tahu oh ini sedih, ini sakit, ini marah, ini duka.

Ngga. Perasaan ini ngga lama-lama juga diratapi, Morrie juga bilang detach from it. Setelah kita memahami dan menjalani emosi ini, segera lepaskan emosi ini. Sudah selesai, sudah pernah mengalaminya.

Somehow, ini teori yang sangat mudah diucapkan, namun rasanya hanya orang-orang tertentu saja yang mampu😁 dan saya belum betul-betul bisa menjalaninya. Tapi secara kesadaran penuh, saya mencoba melakukan ini. Saya nangis, saya ngomel-ngomel, saya nggak menahan-nahannya. Trus besoknya saya coba detach. But the subconsious part of my mind still can't lie to me everytime I remember those moments, the truths. Tapi gapapa, ini tetap pelajaran yang oke banget dari Morrie.

#2 Forgiveness
It's not just other people we need to forgive. We also need to forgive ourselves. For all the things we didn't do. All the things we should have done.

Ini sih, kadang kita suka menyalahkan diri sendiri lebih dari orang lain, seolah kita tuh musuh buat diri kita sendiri, benci banget kayaknya. Padahal diri kita juga perlu dimaafkan, bukan cuma orang lain. Diri kita juga berhak dapetin itu loh. 

Lagi-lagi, teori selalu menang. Kenyataan kadang nggak selalu sampai ke harapan kita. Saya berusaha banget buat memaafkan segala yang saya rasa salah, baik itu buat orang lain, maupun diri sendiri, tapi masih ajaaa ada sisa-sisa amarah😟 tapi gapapa, lagi-lagi, namanya juga belajar. Insya Allah bisa pelan-pelan.

Overall, this book is recommended for those who like the self-motivation book (and the so-called 'quotes' of course!).

Buku selanjutnya yang saya baca adalah 88 Love Life oleh Diana Rikasari. Sudah sejak lama saya suka banget sama blognya hotchocolateandmint, dari jaman SMP kali ya, dari akses internet satu-satunya adalah ke warnet. Buku ini berisi quotes beliau mengenai Love dan Life. Bagus sekali buat yang mau mengisi hati dengan kebaikan-kebaikan hahaha terutama yang ngerasa hatinya udah tercemar seperti saya.

"When people hate you, love them back."

Buku lainnya yang saya baca (baru setengahnya) adalah Act Like a Lady, Think Like a Man by Steve Harvey. Isinya mengenai perbedaan cara perempuan dan laki-laki mencintai, disertai tips how to act like a lady. 

Buku ini (walaupun baru setengahnya saya baca) memberikan saya banyak! banyak banget pengetahuan haha at least untuk apa saja yang selama ini saya lakukan (dan ternyata kurang tepat) dan yang saya suka tanyakan dalam hati, kenapa sih dia begini, atau kenapa sih dia begitu? Iya guys, ternyata cara perempuan dan laki-laki memandang cinta dan mencintai itu sangat berbeda.

Yang kedua, menjelaskan ke saya, kenapa ada wanita yang ngerusak hubungan orang lain. Kenapa ada wanita yang mau jadi yang kedua, dan kenapa laki-laki melakukan itu sih. Mau tau? Karena simply mereka punya low standard, low requirement yang saat dirasa oleh laki-laki mampu dia capai yaa laki-laki ini bakalan lebih milih wanita ini. Bakalan banyak perempuan yang kayak gini, yang bisa kita lakukan untuk memutus rantai ini adalah mendidik anak perempuan kita biar ga mau dikayak-giniin.

((hehe berasa ya marahnya, ngga kok ini cuma #notetomyself #notetofuturedaughter))

Buku ini bagus! Sayang sekali saya bacanya di hp, jadi agak kurang convenient. Pasti saya lanjutin, nanti diupdate ya.

Kemudian, Lang Leav! Saya tau ini dari temen-temen iship saya yang sangat pengertian akan mellownya saya akhir-akhir ini (HAHA). Saya baru baca yang Universe of Us. Isi buku ini cuma poem, poetry. Iyap, tentang cinta pastinya sih ya, ada banyaaaaakkk yang saya screencapture hahaha mengingat ini memang menusuk-nusuk semua dan saya emang masokis, jadi saya baca lah yaa. Salah satu dua yang saya suka ini.



Saya share ini ke temen cowok saya, terus dia bilang, "Bagus sih ya, tapi sudut pandangnya cewek banget."

Nggak berapa lama kemudian dia chat lagi, "Woy, ini orang ngga ada pikiran lain ya hidupnya, cuma mikirin ini doang."

😋😆
tapi emang galau banget ngga ngerti lagi. Jangan dibaca lah ini, agak toxic.

Terus, sekarang saya lagi baca The Architecture of Love-nya Ika Natassa. Ya sejenis Critical Eleven lah yaa. belum seperempatnya, saya belum terlalu eager lagi buat baca. Nanti diupdate yaa kalo selesai, kayaknya sih ngga.

🙋Bulan ini saya banyak menonton film.

Termasuk film korea 😂 Descendant of The Sun (DoTS).
Atas rekomendasi Mbak Galuh, saya -dengan niat- membeli DVD bajakan -ups- dan menontonnya. Eh di episode ke-8 kasetnya rusak hahaha. Suka sih, tapi ngga sampe seperti yang ada di bayangan saya, sampe begadang-begadang, yaa biasa aja sih ngantuk mah tetep tidur. Nanti dilanjutin kalo kasetnya udah beli lagi.

Coco.
Bagus! Nangis pasti sih. Tapi pas nonton ngga begitu niat jadi kurang dapet perasaannya haha.

The Greatest Showman.
Bagus... tapi not a fan of musical dramas, jadi bagus aja. Never Enough oke banget sihhhh tapi, siapa yang bisa mengingkari.

Black Panther.
Bagus, tapi not a fan of superhero movies jadi bagus aja, lucu malah -goyangan dadanya, baju koko dan sendal masjid T'Chakanya- 😹

Wonder.
Wah ini sih, luar biasa. Tipe-tipe film yang sepanjang film saya nangis karena tersentuh. Bagus banget, ceritanya kuat bangeeeet, dan yang paling saya suka adalah saat film ini ngga cuma menggambarkan sebuah cerita dari sudut pandang pemeran utamanya aja, tapi juga pemeran lainnya. Simply, karena setiap orang punya masalah masing-masing, everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Be kind. Always.

🙋Bulan ini saya banyak ketemu temen-temen.

Mulai dari ketemu Dea, Fakhri, Tika, Jeki, Vermes!, sampe temen koass kayak Karinna, Rani, Shofi, dan Charles.

I am loved :') udah itu aja hahahaha.

Oiya, saya dateng ke sumpah dokternya Hanum, ketemu Billy (temen OSN), Zharifah dan Haryo jugaa. Terus pulangnya pertama kali lewatin underpass Kuningan-Mampang dengan Transjakarta baru. What a day.

Saya ke Bandung! Finally, saya datang ke kota tempat saya belajar, kota dengan beribu-ribu (lebaynya) kenangan :') semuanya sih kenangan banget wkwk. Randomnya saya ke sana naik kereta berdua Jeki doang karena Fakhri H-1 batal ikut. Random dan nggak kebayang bakal gimana di jalan mengingat saya memang ngga terlalu dekat sama dia haha tapi it turned out nice! Seru juga kok. Di Bandung saya ke Chinatown (layaknya turis), ke Se'i Sapi Lamalera! yang sudah lama sekali penasaran mau dicobain, dan ke rumah Dea (tentunya) di Dago. Liburan yang nggak pernah direncanakan dan nggak saya sangka bakal sangat menyenangkan. Sebelum pulang kita jajan Es -kekinian- Kepal Milo. B aja, es krim Milo juga B aja. Hehe ✌ Looking forward to another holidaaay!

Saya juga untuk pertama kalinya dateng ke Final Abang-None Jakarta Pusat 2018, bareng Karinna di Taman Ismail Marzuki. Yap, my lovely Manyi jadi salah satu finalisnya, daaaan, menang dong :') bangga banget ga sih. Kenal Rani udah lama, tau motivasi ikutan ini, dan liat potensinya dia beneran bikin bangga dan jangan nge-judge! Mereka bukan cuma gaya-gayaan doang atau mau terkenal doang hehe #notetomyself. Oiya, pulang pergi menuju ke Stasiun Cikini, saya dan Karinna naik bajaj. Naik kereta yang jam 11 malem, ternyata masih penuh juga loh. What a day.

Saya (marathon) kondangan di hari di mana ada pembagian sembako di Monas itu. Asli yang namanya macet, ya macet banget, gerak dikit-dikit doang. Ya siapa suruh ya, udahnya dari Taman Mini, menuju ke Senen saya malah naik Go-Car sama Cibi, yah habislah sudah di jalan. Akhirnya saya dan Cibi turun di jalan terus naik Go-Jek (padahal udah tinggal 1 km lagi sampe Dhanapala!) Alhamdulillah masih sampeee dan bisa foto di pelaminan sama Wawan-Dina. Oiya, selamat ya Kang Rahman-Nisa, dan Wawan-Dina hihiw. Pulangnya, saya ngobrol-ngobrol bertiga Shofi dan Charles. Senang sekali. What a day.

🙋Bulan ini saya banyak belajar hal baru.

Materi-materi yang saya pelajari tentang ilmu agama sih, mostly buat ketenangan dan kedamaian hati aja dan sedikit tentang mempersiapkan pernikahan (xoxo) dan parenting. Dikit banget! Belum pantes dishare hehe nanti kapan-kapan insya Allah yaa.


💬💬💬💬💬💬💬💬💬💬💬💬

At first, I thought that I hate April that much. But, it turns out that April isn't that bad. I lost something (used to be) so important in my life, in return I gained a lot of lessons, I found myself again.


To lost a quid and found a fiver. (aamiin) 💓 
Nikmat yang terbesar yang saya dapat selama bulan ini adalah kembali mengharap, menghamba kepada Allah swt. Dijemput Allah kembali pada jalan-Nya, dipilih Allah untuk menjauhi jalan yang tidak diridhoi-Nya. Merasakan nikmatnya nangis di atas tempat sujud (lagi). Memangnya ada yang lebih indah dari nikmat ini?


Jakarta, 06 Mei 2018
Sincerely,

Nazmun














Written in the Stars

Pengen serius dulu meski isinya sebenernya bakal jadi cheesy pisan plus menertawakan diri dalam hati sih, kenapa bisa ada dalam posisi ini?...