Dear, my future son(s), daughter(s) / grandchildren / grandgrandchildren💖
9 April 2018, pukul 08.00
Cerita kedua datang dari seorang ibu, Ibu B usia 39 tahun, datang dengan keluhan utama nyeri kepala bagian belakang seperti dipukul-pukul sejak tengah malam, yang memberat saat pasien datang ke Puskesmas kelurahan.
Saat itu, saya sedang bersiap-siap menuju ke lantai 2 untuk mempersiapkan vaksin. Saya bertugas pergi ke Posyandu pagi itu. Karena saya sedang tidak bertugas di pelayanan poli umum, saya hanya melewati Ibu B yang sedang menangis sambil menutup mata dan merintih kesakitan. Keluarganya (yang belakangan diketahui adalah tetangganya) sedang mendaftarkan pasien.
((saya males kalo nyamperin berarti saya harus pegang pasiennya, padahal bukan giliran saya. Terus sambil naik tangga saya mikir, Astagfirullah kok bisa-bisanya ngelewatin pasien lagi kesakitan gitu, di mana sih perasaannya.))
Akhirnya saya kembali menghampiri pasien dan meminta pasien masuk ke ruang tindakan. Dokter pembimbing saya juga datang (rintihan pasien memang cukup terdengar sampai ke ruang poli). Saya periksa tanda-tanda vital pasien. Kesadaran compos mentis, tensi 150/80, nadi 92x/menit, respirasi 20x/menit, suhu 38,9०C, skala nyeri 8, saturasi 99. Saya assess tanda kegawatan, tidak ada rangsang meningen, kelemahan anggota gerak ataupun bicara rero, tidak ada refleks primitif, tidak ada keluhan penglihatan buram, mual muntah. Oke, mungkin memang ke arah infeksi.
Karena pasien masih bisa teriak-teriak dan bisa bangun untuk minum obat, saya memberikan parasetamol 500 mg. Melonggarkan baju pasien, meminta pasien tenang, tarik napas lewat hidung, keluarkan lewat mulut; berhenti menangis.
Saya mulai anamnesis. Pasien datang dengan keluhan nyeri kepala berat pada bagian belakang seperti dipukul-pukul sejak tengah malam, sudah diberikan parasetamol, nyeri berkurang. Pagi sebelum datang ke Puskesmas, keluhan kembali memberat sehingga pasien meminta tetangganya menemani ke Puskesmas. Keluhan disertai demam sejak 2 hari yang lalu, muncul mendadak. Tidak ada keluhan mual-muntah, batuk, pilek, BAB cair, nyeri saat BAK, kejang, mimisan, gusi berdarah, bintik-bintik merah di kulit. Keluhan nyeri kepala seberat sebelumnya tidak pernah dialami. Riwayat nyeri kepala hilang timbul +/-5 bulan, dirasakan semakin memberat (ini meragukan sih karena data medrek pasien tidak berobat untuk nyeri kepala, namun vertigo. tapi saya sempet mikir jangan-jangan tumor intrakranial😅).
15 menit berlalu, pasien mulai mengeluarkan keringat, suhu turun 36,9०C, tensi bagus 120/70. Saya tanyakan kembali berapa skala nyeri kepalanya, pasien berkata (sambil nangis, tapi sudah mulai bisa membuka mata lebar-lebar), "Masih Dok, masih sama seperti saya datang. Kenapa ya, Dok, saya sakit apa ya, Dok? Saya nggak punya siapa-siapa, anak saya di Surabaya." (padahal sebelumnya beliau bilang pagi tadi mendingan jadi suami saya berangkat ke kantor, jadi kan punya suami ya😅)
"Bu, kami masih menilai kondisi Ibu, untuk sejauh ini kemungkinan karena infeksi karena ibu mengalami demam. Ibu jangan sambil nangis, nanti makin nyeri kepalanya." Saya berkata menenangkan.
"Bude, mau ditelepon Pakde nggak, biar pulang nemenin Bude?" Tetangganya yang mengantar bilang.
"Boleh, Nduk. Hpnya ada di rumah, di atas meja, tolong bilangin yaaa (masih menangis)."
Saya mengusulkan pemeriksaan darah lengkap. Hasilnya Hb, Ht bagus, leukosit 6000, trombosit 168.000. Pas-pasan, makin kuat dugaan ke arah Infeksi Dengue (terutama setelah salah seorang sejawat saya bilang, "Wah dulu gue dengue nyeri kepala banget emang, nggak pernah gue rasain yang nyeri kayak gitu.")
Iya. Saya baru nyadar ambang nyeri orang beda-beda. Dari awal pasien datang, saya menganggap ini thunderclap headache, langsung kepikirannya wah ini jangan-jangan stroke, atau jangan-jangan meningitis.
Saya diskusi sama pembimbing saya. Kami setuju pasien tidak perlu dirujuk, hanya perlu diobservasi melalui pemeriksaan darah serial untuk berjaga-jaga siapa tau trombositnya makin turun, mengingat demam belum mencapai hari ketiga.
Saya kembali ke pasien. Saya tanyakan kembali skala nyerinya, beliau masih juga menangis dan bilang masih sama, sambil menunjukkan ketakutan akan penyakit tertentu.
Saya edukasi pasien. Saya menjelaskan hasil lab kemudian menyampaikan sejauh ini mengarah ke infeksi dengue, infeksi ini dapat dilawan sistem imun kita, jadi PR ibunya adalah mencukupi nutrisi, minum, dan istirahat. Saya juga menyampaikan apabila keluhan kembali dirasakan sebaiknya pasien datang ke IGD (bukan ke Puskesmas kelurahan 😅) dan diperiksa ulang darahnya sekitar 6-8 jam lagi. Nanti kita tunggu suami ibu ini datang, kemudian ibu bisa istirahat di rumah. Apabila nyeri kepala masih ada setelah demam turun, atau semakin memberat, ibu bisa meminta rujukan ke poli saraf. Ditambah bumbu-bumbu menenangkan namun tetap waspada ala dokter-dokter lainnya, ibu ini akhirnya mulai berhenti menangis dan bilang skala nyerinya 5. Wow, the power of words.
Suaminya datang dan kami edukasi ulang. Pasien akhirnya pulang.
Well, pelajaran sih. Ambang nyeri orang beda-beda, ketakutan orang akan penyakitnya juga berbeda-beda, bahkan definisi nggak punya siapa-siapa juga beda 😅😆 jadi jangan ngejudge!
Selamat hari libur (kejepit) nasional 😪
Cheers,
Nazmun❤
No comments:
Post a Comment