Kayaknya baru kemarin saya masuk kuliah, galau SNMPTN, galau keterima FK apa engga, eh tiba2 udah masuk aja. Tiba-tiba naik tingkat, tiba-tiba sekarang udah sistem terakhir, sistem genitourinary, dan datanglah skripsi.
Well, saya menganggap skripsi adalah wrap-up dari pelajaran CRP saja, community research. Mulai tahun dua udah ada critical appraisal jurnal2, mendeteksi si jurnal dapat diterima atau tidak. Ya, setelah belajar baru ngerti kalau penelitian memang bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup mahasiswa, apalagi mahasiswa kedokteran, yang insya Allah akan jadi dokter. Sejauh ini saya sih berminatnya jadi klinisi, dokter praktik, bertemu pasien, mengobati pasien, ya sekitar itulah. Dan pelajaran critical appraisal ini menyadarkan saya bahwa ilmu kedokteran itu sangat dinamis, berkembang setiap hari, bahkan mungkin setiap jamnya, ada aja dokter yang habis meneliti dan penelitiannya itu mengganti protokol treatment untuk pasien, atau bahkan menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Saya jadi paham sih bahwa pepatah yang bilang dokter itu long-life learning emang bener. Dan kalau mau up to date ya bacanya jurnal. Sejak saat itu mindset saya berubah sedikit (cuma sedikit haha). Skripsi saya harus bermanfaat. Ya, mungkin bukan yang keren banget tapi at least manfaat lah, maka dari itu skripsi saya harus yang mencari hubungan sesuatu, atau membandingkan sesuatu. Dan kemudian saya menyadari bahwa penelitian yang bahkan hanya mendeskripsikan karakteristik pasien saja (yang tadinya saya pikir kok skripsi segampang itu), menjadi sangat berguna, terutama untuk peneliti selanjutnya.
Pas saya menjalaninya, saya jadi makin yakin bahwa insya Allah bermanfaat skripsinya hehe. Jujur saja saya kurang berminat meneliti di komunitas sebenarnya, saya lebih senang ke rumah sakit, lihat medical record, ya begitu. Agaknya senang sekali karena beneran langsung diterapkan ke pasien. Ya apa daya, saya kalah cepet pas milih skripsi, jadi aja saya ga dapet yang saya mau.
Tapi alhamdulillahnya kedua dombing saya luar biasa ahli dan baik2, alhamdulillah memang rejeki. Ya sekarang tinggal sayanya yang mencari sendiri di mana letak semangat saya, di mana titik yang membuat saya tetap harus bergerak.
Ya, gampang sih, apalagi kalau bukan wisuda hehe. Mohon doanya supaya bisa wisuda tahun dpn bulan februari, biar lgsg koas, cepet jd dokter karena jujur, saya semangat banget koas, kyknya bakalan seru. Apalagi jd spesialis yang kita minati, tadi contohnya ada dokter obgyn keren pisannn dengan penelitiannya yang menurut saya sih luar biasa bgt dan sangat berguna buat praktik beliau sendiri. aaaa seneng bisa jadi mahasiswa FK, bismillah, semoga lancar ke depannya.
Makasih dokter yang membuat kurikulum terintegratif tadi, walaupun gerah panas malesin tapi menginspirasi bangett..
Wednesday, 25 March 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)
Written in the Stars
Pengen serius dulu meski isinya sebenernya bakal jadi cheesy pisan plus menertawakan diri dalam hati sih, kenapa bisa ada dalam posisi ini?...
-
sore2 ditemani westlife dan segala deadline, acara, tujuan utama. deeadline ngerjain amplop bioscope, acara sampah sama scorp (ambigu) dan t...
-
Jakarta, 5 Januari 2019 Sebelum terlambat, saya mau buat appreciation post untuk 2018, beserta orang-orang, kejadian, dan tempat-tempat ...
-
Semester 7 sedikit lagi usai. Insya Allah, kalau rejekinya lancar -skripsi submit besok, sooca dan ujian lainnya 3 minggu ke depan- insya Al...