yang satu lagi seorang artist, bukan artis, haha art-ist
yang pertama adalah kerandoman saya dengan calon sejawat saya.
tentang masa depan yang benar2 gak bisa diprediksi dan bikin pusing.
dan tentang masa lalu, -yang jika saja berubah- akankah kita bisa berbincang seperti hari ini?
mungkin kita tidak akan menjadi kita ketika masa lalu itu lain jalannya.
entah.
saya suka mikir, kayaknya hidup jadi dokter bakalan berat ya, mainnya sama nyawa manusia. manalagi sekarang masyarakat lebih gampang buat mikir 'malpraktik'.
hmm jadi inget ketika dosen saya di lecture bilang,"banyak pengac*ra yang nyari tenar, berkeliaran di rumah sakit, mendatangi mereka yang mungkin kurang mampu membayar bantuan hu*um jika memang dirasa ada kesalahan dari dokter2. kesalahan yang entahlah, saya tidak bisa bilang apakah itu kesalahan atau kesalahpahaman.
no offense.
komunikasi. inilah yang kebanyakan menjadi masalah menurut dosen kami, yang juga dokter.
banyak dari pasien yang merasa dokternya salah dan akhirnya menuntut dokter tersebut, dan media sangat gencar memberitakan hal ini.
saya jadi takut.
well, ini perbincangan absurd antara saya dengan calon sejawat saya:
eh, kalo ntar udah jadi dokter, kalo gue banyak nanya sama lo, gpp ya
haha hal yang sebaliknya juga berlaku ya :p
gue seneng dah kalo bisa diskusi, andai jadi dokter bisa berkelompok ya. eh tapi, kalo lo ke jepang, gue nanya sama siapa -_-" udah deh udah makin absurd ini
kalo gue ke jepang kita gajadi temen sejawat mun wkwk
iya juga ya. tapi kan doctor's oath gak kebates negara ahahaha udah makin absurd
conversation itu muncul karena saya yang -mungkin- masih belum siap dengan kenyataan bahwa nantinya saya harus bekerja dengan 0% error.
manusiawi-kah jika dokter salah? ini yang masih menjadi pertanyaan yang bahkan dosen bioetik saya pun belum menjawabnya dengan 'ya' atau 'tidak'
entahlah.
dan ketika itu juga, sms dari teman saya si art-ist datang: (saya cantumin original message ya, no offense)
mun, kalo jadi dokter jangan brengs*k ya!! duh maaf kotor, tapi sedih banget dengan kenyataan dokter2 di rs yang udah mulai banyak tingkah di berita
bantuin gue buat mendeskripsikan brengs*k yang lo bilang deh. kadang media cari2 yang jeleknya doang, padahal cuma oknum loh ._.
nah iya, mungkin maksudnya oknum. tktnya yang lain ikut2an gt mun, oknum kan kyk virus gt (menurut gue). ya mulai ngasih obat tanpa penjelasan yg jelas sehingga membebani pasien (trus malah tambah parah sakit pasiennya), sampe ya yang operasi yg gak perlu malah operasi jadinya cacat. kemarin jg ada berita yg rs dijadiin tempat syuting, trus pasien ada yg meninggal gara2 lalai ngerawatnya gegara syuting. maksudnya dunia kesehatan kita gt mulai kena virus
hm, untuk calon sejawat saya yang membaca ini, pasti udah sering denger isu2 seperti ini di lecture mau pun dari media ya. dan ketika saya membaca ini pun sudah tidak asing lagi. semuanya saya tau. jika saya bukan seorang calon dokter, saya -mungkin- akan memandang buruk dokternya. dan bukan tidak mungkin, men-generalisasi dokter dengan pandangan saya tsb.
tapi sekarang, saya yakin itu hanya oknum. masih banyak saya temui dokter2 dosen saya yang masih memegang teguh prinsip dan etika kedokteran yang luhur, yang saat ini banyak tidak dianggap masyarakat karena generalisasi itu mungkin. dokter2 kami di fk unpad, bahkan selalu menyisipkan isu2 tsb dan mempersiapkan kami pada kenyataan yang ada. ya, kami ditanamkan nilai2 yang baik kok :') dan saya yakin oknum tersebut pun begitu.
hm ya, sebenernya butuh dari dalem diri dokter itu sendiri sama dari lingkungannya emang. lo harus baca cado2 yang ke3 deh, buku ttg koas gitu, gue jg takut sebenernya, apa gue bisa tetep seidealis kyk sekarang pas udh jd dokter nanti, ya mungkin kalo dari sisi lain, oknum itu emg menjadikan dokter sebagai profesi doang, tanpa hati. ingetin gue terus ya, makasih banyak.
saya selalu inget analogi alveolus-nya kang tanri http://www.arrizasyifaa.com/2011/01/fisiologi-1-alveolus-1.html di saat menyentuh area 'idealisme'
saat ini, ketika ditanya pertanyaan 'mengapa kamu mau jadi dokter?' kepada teman2 seangkatan saya, saya jamin 99% jawabannya sangat luhur. mulai dari ingin membantu banyak orang, ingin mengabdi, ingin bermanfaat, bahkan -seperti impian saya- ingin membantu masyarakat mengakses pengobatan gratis (yang saat ini akhirnya masih saya analisis kembali mimpi saya ini)
semuanya. ya, belum saya temukan mereka yang bilang,"biar cepet kaya" (sekali lagi no offense)
dan -kembali meminjam- dari buku dr. ferdiriva, cado2 3 tentang idealisme, saya selalu khawatir dengan:
ketika mahasiswa masih idealis, saat koas mulai oportunis, dan ketika jadi dokter kapitalis.
naudzubillahi min zalik. saya mikir aja, sekarang saya masih se-ideal ini dalam berpikiran. namun, apakah saya nantinya juga akan terbawa arus seperti itu?
jika mengacu pada analogi alveolus kang tanri, semuanya terletak pada diri kita sendiri dan lingkungan yang senantiasa bisa mengingatkan kita pada idealisme yang kita tetap ingin genggam. dan yang dari dalam diri kita sendiri, lebih utama.
dan jadi ingat kata2 abah iwan dalam inspiring moment di cidaun:
'ketika kerelaan seorang dokter hilang, yg tersisa hanya profesi dgn transaksi ekonomis. tanpa kehormatan' -abah iwan, tentang dokter
hm, ya, itulah. mungkin saya harus lebih dalam lagi mempelajari 'lapangan' saya nantinya.
well, saya berterima kasih sekali atas perbincangan yang random ini. sebenernya gak random juga sih ya, ini penting buat saya haha.
semoga bisa bermanfaat buat yang baca :)
selamat puasa btw hehe..