Sunday, 17 June 2018

Hati, Apa Kabar Hari Ini?

Apasih judulnya gue geli sendiri haha. Hai semuanya... siapa aja ya kira-kira semuanya itu wkwk siapa sih yang baca, suka penasaran aku tu.

Daku kembali untuk mengupdate kehidupan, untuk mengabarkan ke hati, bagaimana kabarnya menurutku. Gue lupa deh, ngomongnya aku saya apa gue sih di blog ini ya 😁

Well, 'saya' deh kalo ngga salah haha. Oke, cerita kita mulai ya. 

Seminggu ini, saya baru aja masuk rotasi internship baru, yaitu jaga IGD! 🙌💪 Ya, seperti namanya, saya bertugas di IGD sebuah rumah sakit ternama (ezik) di Jakarta Timur. Di rumah sakit ini ada 3 shift, pagi, siang, dan malam. Siang berdua, sisanya sendiri. Karena saya masih iship, jadinya beberapa jenis kasus mesti konsultasi ke dokter umum IGD dulu gitu sebelum pulangin pasien, atau kalo mau rawat juga mesti konsul, atau kalo bingung ya pasti konsul lah ya. Di sini saya pegang pasien triage (klasifikasi kegawatan kasus di IGD) hijau, artinya yang tidak gawat tidak darurat, atau kadang false emergency. Nanti katanya kalo udah sebulan duabulan boleh lah masuk-masuk ke triage kuning

Beberapa penyakit mirip saat jaga di poli umum/ MTBS puskesmas, jadinya masih inget-inget lah ya. Tapi beberapa lainnya udah lupaaa😆 hari pertama saya jaga, langsung dapat PR tentang vertigo wkwk yhaa maap ya dok. Diinget-inget saya pas koass nggak sukaaa banget sama kasus ini. Emang berkesinambungan si ya ilmu tuh, mulai dari preklinik sampe kepaniteraan kalo ngga suka langsung ngeblank lah...

Ya intinya hari pertama jaga saya masih linglung, 1 pasien bisa setengah jam! Bolak balik, bengang bengong, nulis resep pun bingung, bolak-balik konsul juga pastinyaa, tapi Alhamdulillah wa syukurillah jaganya sama dokter yang super supportive dan baik!!! Turns out, dia ternyata malaikat hahaha ngga deng, dia emang baikkk banget bahkan saya pernah jaga berdua Sarah, trus menjelang jam dismiss jam 9 malem, pasien masih numpuk 6 apa 8 gitu, saya sama Sarah cuma geleng2 doang, napa rame bgt??!! Eh tiba-tiba dia dengan halo di kepalanya 😇 dateng, "Dek, banyak ya? Sini gue bantuin."

Muka saya sama Sarah >> 😂😂😂 tears with joy. Dia periksa semua pasien cuma 10 menit😱

Tidak lupa beliau berkata, "Siapa ya yang kemarin punya PR vertigo sama gue?" wakaka belom dok saya bobo, maap2.

Tapi udah kok sekarang udah baca ulang haha. Sebenernya kalo ada pasien gue yang baca blog ini bisa-bisa langsung kabur ga si nyadar dokternya gini wkwk.

Well, jaga IGD paling parah yang bareng Sarah itu, ditutup dengan saya yang prolong (istilah merujuk kepada nambah jam jaga) secara volunteer untuk bantuin Yun sampe jam 11. Saya pulang juga gara2 dibentak dokternya. "Dek, mau sampe kapan ngga percaya sama temen kamu? Pulang sekarang, kalo prolong sejam gapapa, ini udah malem loh nanti dicariin orangtua kamu."

Iya cuy... kenapa saya mesti nge-iya-in dimintain tolong sampe segitunya ya beb. Tapi yah, mungkin emang ini salah satu rejeki beberapa pasien melalui perbuatan saya ini. Ada pasien DHF grade III beb, udah dingin tuh akral, trombosit 36ribu, udah lemes banget pasiennya, masih nunggu di luar di kursi tunggu karena ngantri banget. Alhamdulillah ya beb, langsung IV line 2 jalur 😂

Pulang-pulang tepar beb. Lemes semua badan, mana belum makan proper, lagi puasa kan ituuu. Yaudah alhamdulillah banget masih sehat sampe sekarang. Besoknya nggak kok, jaga sama Tika bahkan bisa buka puasa di kamar jaga dengan santai mulai dari makan takjil sampe makan nasi trus sholat dengan tenang. Jadi saya nggak percaya yang namanya pembawa atau penolak-mitos. Yaa kalo Allah lagi berkehendak, lagi rame ya alhamdulillah, sepi ya lebih alhamdulillah.

Sejauh ini pasien paling aneh pneumothorax kanan e.c susp. post TB paru (pecah bleb gitu?) dd/ idiopatik. Tapi nggak gawat pasiennya, pernapasan 24x/ menit, KU bagus, meskipun VBS ngga bisa boong ya, menurun banget sih yang kanan, akhirnya pasiennya kalo nggak salah dirujuk juga karena nggak ada Spnya. Nanti bakal saya ceritain yang ngena bangetnya di #911 ya!

Anyway, karena IGD capek banget!! Yet, superrrr exciting, saya ngerasa ini emang tempat yang sangat baik buat move on (HAHA)! Dan menguatkan keinginan buat kerja di RS aja sih, nggak mau di Puskesmas, ternyata sukanya emang di RS (kalo kata Charles salah satu pernyataan sesumbar mengingat di IGD baru seminggu wkwk ya gapapa ntar kalo berubah ya mo gimana).

Saya suka sih di IGD, bukan suka jaga IGD, siapa juga yang suka ya, tapi saya seneng atmosfer rumah sakit, suka kerja yang efisien, shift beres ya pulang, bobo, nggak ribet ngurusin laporan, indikator, program, sosialisasi, ngga ribet ngumpul-ngumpul ngegosipin ibu kader atau drama-drama sama pemegang program lain😅 Saya suka kerja ya kerja, pulang yaudah ngga ribet bikin laporan (benci banget w ngerjain laporan tu). No offense, bukannya lebih baik di RS, ini mah cuma preferensi aja ya.

Saya seneng di RS tempat saya sekarang, semuanya baik dan saling menghormati, mulai dari security, admin, perawat, dokter umum IGD nyaa (!! dokter-dokter muda dengan berbagai perangai si, tp yang pasti mereka juga baik), suka sih alhamdulillah suka.

Hati...

Semakin banyak tirai-tirai sisi baik yang kebuka, nunjukin kenapa love life saya harus gini kelanjutannya, kenapa saya nggak sama dia, kenapa mesti sekarang, kenapa pas lagi iship, kenapa caranya mesti gini. Belum sejelas itu sih emang, bukan yang sejelas itu sampe saya udah completely lupa, nggak. Perkembangan yang terbaik adalah waktu recovery saya yang lebih cepat dalam menerima sebuah kabar atau update atau cerita-cerita. Udah nggak ada tuh sakit-sakit yang bikin gloomy apalagi sampe bikin trouble sleeping atau changing dietary habit wkwk, alhamdulillah, nggak ada lagi mood yang langsung anjlok abis denger sesuatu, cepet beb. Alhamdulillah. Allah yang Maha Pembolak-balik hati, beneran nitip aja sama Allah, berkali-kali nitip sambil nangis-nangis, karena beneran sih, I took 2 steps forward and 4 steps back. Ngga seimbang beb, tapi ya mau gimana, emang butuh waktu yaaa. Tapi sejauh ini, I'm doin well 👏👏👏

Hati...

Ada yang bikin saya menitipkan bangeeeet hati saya sama Allah, beneran yang kalo jodoh tolong dideketin tapi saat saya dan dia udah siap nikah; tapi kalo nggak jodoh minta dibalik hatinya biar jadi nggak suka, jadi yaudah tiba-tiba nggak aja gitu. Minta banget biar dijauhin dari jatuh ke jalan yang nggak diridhoi Allah lagi.

Tapi Allah baik banget emang ya, baik banget, Maha Baik. Paling tau bagaimana cara menghibur hamba-Nya, cara menunjukkan nikmat-Nya yang belum saya sadari, cara mengajarkan saya suatu hal. Semua dengan cara yang... masya Allah, kok Allah sebaik itu yaa...

Alhamdulillah 'ala kuli haal, terima kasih yaa Allah.

Lookin' forward to write again, Blog! Doakan ku sehat hahaha.

❤☺
Nazmun xo

Thursday, 24 May 2018

L’idée #3

When we were together these years, we both found ourselves becoming the people we didn't recognize who we were. We both also knew that it didn't work and would end unfortunately....
nemu lagu bagus, yang... bener juga. I made a right decision tho

So come on, let it go
Just let it be
Why don't you be you
And I'll be me

Everything that's broke
Leave it to the breeze
Why don't you be you
And I'll be me

And I'll be me

From throwing clothes across the floor
To teeth and claws and slamming doors at you
If this is all we're living for
Why are we doing it, doing it, doing it anymore?

I used to recognize myself
It's funny how reflections change
When we're becoming something else
I think it's time to walk away

Tryna fit your hand inside of mine
When we know it just don't belong
Cause no force on earth could make it feel right, no no
Tryna push this problem up the hill
When it's just too heavy to hold
I think now's the time to let it slide

-Let it Go

Tuesday, 22 May 2018

#SelfReminder❤2

"Kita butuh waktu untuk mengetahui maunya Allah apa. Apa yang hari ini kita anggap musibah, suatu hari nanti ketika kita paham, akan kita anggap sebagai nikmat." -Ust. Hanan Attaki


Saturday, 19 May 2018

#SelfReminder❤1

Alif lam mim. Ini adalah kitab yang tidak ada keraguan sedikit pun padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
-QS. al-Baqarah: 1-2

Ceritanya lagi ngaji, nerusin tadarus, kebetulan (yang saya yakin bukan kebetulan) lagi baca QS. An-Nur. Setelah ngaji, coba baca terjemahannya. 

Jleb.

Masya Allah, saya sering banget lagi galau terus (semacem) ditunjukkin ayat yang rasanya Allah lagi ngomong langsung ke saya.

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur: 26)


Saya langsung bilang astaghfirullahalazim pas baca. Mungkin bentuk hiburan dari Allah, atau peringatan?

Selanjutnya, ada ayat ini:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)

Mungkin kita semua sering denger yaa ayat ini, mungkin ada yang kayak saya, lewat aja (atau mencoba denial sama kejelasan ayat ini). Tapi, alhamdulillah hari ini jadi inget lagi :') makasih ya Ya Allah Ya Rabb....

Image result for when life get your knees you are in perfect position to pray❤❤

Wednesday, 16 May 2018

Loving Yourself as Your Own Home❤

The biggest mistake that we make is that we build our homes in other people. We build those homes and we decorate them with the love and care and respect that we want to come home to at the end of the day. We invest in homes in other people, and we evaluate self-worth based on how much those homes welcome us. And when those people walk away, those homes walk away with them, and all of a sudden, we feel empty because everything that we had within us, we put in those homes. We trusted someone else with pieces of us. That emptiness that we feel doesn't mean that we have nothing to give, or that we have nothing within us. It's just that we built our home in the wrong place.
―Najwa Zebian


Selama saya hidup, 24 tahun, saya belum pernah mengenal yang namanya self-love. Saya tumbuh jadi anak yang biasa menyenangkan orang, menghindari konflik; sehingga seringkali saya mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri saya sendiri. Saya cenderung anak yang nggak enakan, apa-apa minta maaf kalau ngerasa nggak enak. Termasuk dalam hal menilai diri sendiri, saya terbiasa mendapatkan pujian dari orang lain, tidak pernah memuji diri sendiri. Bahkan saya seringkali rendah diri (atau merendah) biar 'enak'.

Saya baru mengenal self-love baru-baru ini. Karena quotes dari Najwa Zebian di atas, saya menyadari hal yang baru ini saya harus pelajari karena saya kehilangan arah untuk 'pulang'.

Home isn’t a place. Home is anywhere, just as long as the people you love are there.

 ―Kristen Ashley

'the people you love' di atas, nggak pernah termasuk diri saya sendiri. Saya menempatkan diri saya ya sebagai saya yang love other people, subjek bukan objek, bukan sebagai pribadi yang harus dicintai juga. Nggak pernah!

Yang saya tau, yaa self-love itu: 
  1. the instinct by which one's actions are directed to the promotion ofone's own welfare or well-being, especially an excessive regard for one's own advantage
  2. conceit; vanity
  3. narcissism

http://www.dictionary.com/browse/vanity

Selama ini, menurut saya itu suatu keegoisan, narsis! Sampai akhirnya saya sadar kalo yang akan selalu ada ya diri kita sendiri. Selama ini saya selalu menghargai diri saya berdasarkan apa yang orang lain katakan, orang yang saya taro sebagai prioritas saya, sebagai 'main home', sehingga saya harus nunggu dulu dia bilang saya cantik, baru saya merasa cantik; saya pengen terlihat cantik cuma buat orang itu, bukan untuk diri saya sendiri, sehingga saat saya nggak dibilang demikian, saya merasa nggak cukup cantik. Demikian halnya dengan pekerjaan, saat saya ngerasa nggak bagus, ya saya akan minta maaf abis-abisan karena (saya merasa) mengecewakan orang lain; tapi saat saya mengerjakan sesuatu yang excellent buat saya, saya tetep nunggu orang lain bilang bagus, barulah itu bagus buat saya, kalo nggak, ya berarti nggak jadi bagus. Ini salah satu masukan dari bos magang saya, kurang-kurangin deh minta maaf, ganti dengan 'Saya akan berusaha lebih baik lagi kalau dikasih kesempatan selanjutnya.' "Soalnya kerjaan kamu nggak sejelek itu kok," katanya.

Iya, saya menghargai diri saya tidak setinggi yang seharusnya.

Ini saya rasakan sebagai titik balik, mengenal diri, mencintai diri sendiri nyatanya memang perlu, biar kebahagiaan kita nggak terbatas pada apa yang diberikan orang lain aja, tapi juga apa yang kita sendiri kasih ke diri kita. Kita bisa cinta sama orang lain segitunya, masa nggak bisa unconditionally love ourselves?

Mulai dari sini saya mulai banyak denger/ baca tentang how to love myself. Salah satunya ini Love Yourself. Sejak saat itulah saya mulai bisa menerima kalau saya worth it. (Masih belajar buat bikin ini terdengar ga sombong lol)


Membuat tulisan ini merupakan salah satu bentuk nyata saya mencoba loving myself. Kenapa? Karena di tulisan ini saya kayak kasihtau kekurangan saya, hal yang mungkin jadi salah satu dark side saya, yet one step of loving-yourself game is how to embrace your dark side. 

You are a human. Sometimes you’re stormy. Sometimes you’re placid. Sometimes you’re in between. You can’t be any other way. And that’s perfect.

Well, ini salah satu pelajaran yang menyenangkan banget. Suatu hal baru yang nggak pernah saya sadari saya butuhkan, sampai saya ditunjukkan ini di titik rendah dalam hidup saya. Kapan-kapan cerita tentang ini lagi yaa hehe mau tarawih pertama :') alhamdulillah.

Selamat puasa semuanya. Semoga puasa dan ibadah lainnya lancar, berkah, dan menyenangkan.

Love,
Nazmun❤

Image result for love yourself first quote

Friday, 11 May 2018

911 #3

Dear, my future son(s), daughter(s) / grandchildren / grandgrandchildren💖

Entah kenapa ya, 3 hari berturut-turut saya selalu dapet pasien emergency pas lagi (bahkan ga lagi) pelayanan. Hari ini pas saya lagi mau periksa pasien poli tiba-tiba temen saya bilang, "Mun, ruang tindakan."

What the... kenapa lagi, siapaaah...

Ternyata balita C, laki-laki, 13 bulan jidatnya berdarah-darah 😓 kepentok ujung tembok, luka terbuka ukuran 1x0,1x0,1 cm, dasar bersih, masih mengalir sedikit darah, lagi ditekan pake kapas sama bapaknya. Bapaknya menceritakan kejadiannya dan (yang saya tangkep) sedikit menyalahkan ibunya.

"Iya Dok, ibunya gantian jagain, saya lagi di dapur cuci piring (so kyut, love hearing a husband does domestic task) tiba-tiba udah kepentok ujung tembok."

Ibunya dari luar ruang tindakan cuma istighfar dan gamau masuk, ngga tega katanya. Untung bapaknya lagi nggak kerja.

Saya membersihkan luka pasien dengan normal saline dan kassa, yaa seperti saya biasa lah ya, tega (wkwk). C udah nangis-nangis kayak apaan, saya bersihin sambil liat sedalem apa, dalem ternyata. Ah, mager banget mesti jahit (tapi dalam hati, iya ini kesempatan belajar!)

Dokter pembimbing saya dateng dan ngeliat lukanya, "Iya, jahit 1 aja ya."

Nggak lama kemudian perawat dateng. "Oiya, bisa ini, Dok, satu aja. Dokter ya yang kerjain."

"Hehe mbak ajadeeeh, takut."

"Nggak, Dok, bisa."

Saya beruntung banget di lingkungan yang supportif gini, terutama buat saya yang takutan.

Dimulailah drama ini. Anaknya teriak-teriak meronta-ronta saat saya aseptik. DUH!

"Ini, Dok jarumnya. Di tengah aja, Dok, masukin dalem ya."

Degdegdeg.... 

Rasanya nusukin jarum ke kulit beneran... ya gitu ya. Anaknya meronta-ronta (yaiyalahya ga dilido wkwk ya abis dilido suntik lagi kan), jarumnya belom keliatan keluar wkwk duh pokoknya tangan saya udah merinding disko deh.

Sampe akhirnya jarumnya berhasil keluar. YES!

"Dok, ini bukan ujian, Dok, gemeter banget."

HEHE😅

Oiya, saya sebelumnya pernah hecting, tapi di perineum dan cuma 1 jahitan doang juga. Pas bedah cuma observvvv hhh dasarnya belom rejeki.

Saya suka banget pegang alat, suka banget sama ngejahit-jahit gini, hehe semoga bisa jadi dokter yang ada bedah-bedahnya, aamiin.

Akhirnya drama selesai. Anak C ini akhirnya capek sendiri bahkan sampe tidur saking capeknya nangis.

Alhamdulillah... alhamdulillah. Emang cuma Allah yang bisa kasih rejeki dan kasih kekuatan, kelancaran buat bantuin orang.

Selamat liburr💋

Yours truly,
Nazmun❤

Thursday, 10 May 2018

911 #2

Dear, my future son(s), daughter(s) / grandchildren / grandgrandchildren💖

9 April 2018, pukul 08.00
Cerita kedua datang dari seorang ibu, Ibu B usia 39 tahun, datang dengan keluhan utama nyeri kepala bagian belakang seperti dipukul-pukul sejak tengah malam, yang memberat saat pasien datang ke Puskesmas kelurahan.

Saat itu, saya sedang bersiap-siap menuju ke lantai 2 untuk mempersiapkan vaksin. Saya bertugas pergi ke Posyandu pagi itu. Karena saya sedang tidak bertugas di pelayanan poli umum, saya hanya melewati Ibu B yang sedang menangis sambil menutup mata dan merintih kesakitan. Keluarganya (yang belakangan diketahui adalah tetangganya) sedang mendaftarkan pasien.

((saya males kalo nyamperin berarti saya harus pegang pasiennya, padahal bukan giliran saya. Terus sambil naik tangga saya mikir, Astagfirullah kok bisa-bisanya ngelewatin pasien lagi kesakitan gitu, di mana sih perasaannya.))

Akhirnya saya kembali menghampiri pasien dan meminta pasien masuk ke ruang tindakan. Dokter pembimbing saya juga datang (rintihan pasien memang cukup terdengar sampai ke ruang poli). Saya periksa tanda-tanda vital pasien. Kesadaran compos mentis, tensi 150/80, nadi 92x/menit, respirasi 20x/menit, suhu 38,9०C, skala nyeri 8, saturasi 99. Saya assess tanda kegawatan, tidak ada rangsang meningen, kelemahan anggota gerak ataupun bicara rero, tidak ada refleks primitif, tidak ada keluhan penglihatan buram, mual muntah. Oke, mungkin memang ke arah infeksi.

Karena pasien masih bisa teriak-teriak dan bisa bangun untuk minum obat, saya memberikan parasetamol 500 mg. Melonggarkan baju pasien, meminta pasien tenang, tarik napas lewat hidung, keluarkan lewat mulut; berhenti menangis.

Saya mulai anamnesis. Pasien datang dengan keluhan nyeri kepala berat pada bagian belakang seperti dipukul-pukul sejak tengah malam, sudah diberikan parasetamol, nyeri berkurang. Pagi sebelum datang ke Puskesmas, keluhan kembali memberat sehingga pasien meminta tetangganya menemani ke Puskesmas. Keluhan disertai demam sejak 2 hari yang lalu, muncul mendadak. Tidak ada keluhan mual-muntah, batuk, pilek, BAB cair, nyeri saat BAK, kejang, mimisan, gusi berdarah, bintik-bintik merah di kulit. Keluhan nyeri kepala seberat sebelumnya tidak pernah dialami. Riwayat nyeri kepala hilang timbul +/-5 bulan, dirasakan semakin memberat (ini meragukan sih karena data medrek pasien tidak berobat untuk nyeri kepala, namun vertigo. tapi saya sempet mikir jangan-jangan tumor intrakranial😅).

15 menit berlalu, pasien mulai mengeluarkan keringat, suhu turun 36,9०C, tensi bagus 120/70. Saya tanyakan kembali berapa skala nyeri kepalanya, pasien berkata (sambil nangis, tapi sudah mulai bisa membuka mata lebar-lebar), "Masih Dok, masih sama seperti saya datang. Kenapa ya, Dok, saya sakit apa ya, Dok? Saya nggak punya siapa-siapa, anak saya di Surabaya." (padahal sebelumnya beliau bilang pagi tadi mendingan jadi suami saya berangkat ke kantor, jadi kan punya suami ya😅)

"Bu, kami masih menilai kondisi Ibu, untuk sejauh ini kemungkinan karena infeksi karena ibu mengalami demam. Ibu jangan sambil nangis, nanti makin nyeri kepalanya." Saya berkata menenangkan.

"Bude, mau ditelepon Pakde nggak, biar pulang nemenin Bude?" Tetangganya yang mengantar bilang.

"Boleh, Nduk. Hpnya ada di rumah, di atas meja, tolong bilangin yaaa (masih menangis)."

Saya mengusulkan pemeriksaan darah lengkap. Hasilnya Hb, Ht bagus, leukosit 6000, trombosit 168.000. Pas-pasan, makin kuat dugaan ke arah Infeksi Dengue (terutama setelah salah seorang sejawat saya bilang, "Wah dulu gue dengue nyeri kepala banget emang, nggak pernah gue rasain yang nyeri kayak gitu.")

Iya. Saya baru nyadar ambang nyeri orang beda-beda. Dari awal pasien datang, saya menganggap ini thunderclap headache, langsung kepikirannya wah ini jangan-jangan stroke, atau jangan-jangan meningitis.

Saya diskusi sama pembimbing saya. Kami setuju pasien tidak perlu dirujuk, hanya perlu diobservasi melalui pemeriksaan darah serial untuk berjaga-jaga siapa tau trombositnya makin turun, mengingat demam belum mencapai hari ketiga.

Saya kembali ke pasien. Saya tanyakan kembali skala nyerinya, beliau masih juga menangis dan bilang masih sama, sambil menunjukkan ketakutan akan penyakit tertentu.

Saya edukasi pasien. Saya menjelaskan hasil lab kemudian menyampaikan sejauh ini mengarah ke infeksi dengue, infeksi ini dapat dilawan sistem imun kita, jadi PR ibunya adalah mencukupi nutrisi, minum, dan istirahat. Saya juga menyampaikan apabila keluhan kembali dirasakan sebaiknya pasien datang ke IGD (bukan ke Puskesmas kelurahan 😅) dan diperiksa ulang darahnya sekitar 6-8 jam lagi. Nanti kita tunggu suami ibu ini datang, kemudian ibu bisa istirahat di rumah. Apabila nyeri kepala masih ada setelah demam turun, atau semakin memberat, ibu bisa meminta rujukan ke poli saraf. Ditambah bumbu-bumbu menenangkan namun tetap waspada ala dokter-dokter lainnya, ibu ini akhirnya mulai berhenti menangis dan bilang skala nyerinya 5. Wow, the power of words.

Suaminya datang dan kami edukasi ulang. Pasien akhirnya pulang.

Well, pelajaran sih. Ambang nyeri orang beda-beda, ketakutan orang akan penyakitnya juga berbeda-beda, bahkan definisi nggak punya siapa-siapa juga beda 😅😆 jadi jangan ngejudge!

Selamat hari libur (kejepit) nasional 😪

Cheers,
Nazmun❤

Written in the Stars

Pengen serius dulu meski isinya sebenernya bakal jadi cheesy pisan plus menertawakan diri dalam hati sih, kenapa bisa ada dalam posisi ini?...