Tuesday, 22 May 2018

#SelfReminder❤2

"Kita butuh waktu untuk mengetahui maunya Allah apa. Apa yang hari ini kita anggap musibah, suatu hari nanti ketika kita paham, akan kita anggap sebagai nikmat." -Ust. Hanan Attaki


Saturday, 19 May 2018

#SelfReminder❤1

Alif lam mim. Ini adalah kitab yang tidak ada keraguan sedikit pun padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
-QS. al-Baqarah: 1-2

Ceritanya lagi ngaji, nerusin tadarus, kebetulan (yang saya yakin bukan kebetulan) lagi baca QS. An-Nur. Setelah ngaji, coba baca terjemahannya. 

Jleb.

Masya Allah, saya sering banget lagi galau terus (semacem) ditunjukkin ayat yang rasanya Allah lagi ngomong langsung ke saya.

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur: 26)


Saya langsung bilang astaghfirullahalazim pas baca. Mungkin bentuk hiburan dari Allah, atau peringatan?

Selanjutnya, ada ayat ini:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)

Mungkin kita semua sering denger yaa ayat ini, mungkin ada yang kayak saya, lewat aja (atau mencoba denial sama kejelasan ayat ini). Tapi, alhamdulillah hari ini jadi inget lagi :') makasih ya Ya Allah Ya Rabb....

Image result for when life get your knees you are in perfect position to pray❤❤

Wednesday, 16 May 2018

Loving Yourself as Your Own Home❤

The biggest mistake that we make is that we build our homes in other people. We build those homes and we decorate them with the love and care and respect that we want to come home to at the end of the day. We invest in homes in other people, and we evaluate self-worth based on how much those homes welcome us. And when those people walk away, those homes walk away with them, and all of a sudden, we feel empty because everything that we had within us, we put in those homes. We trusted someone else with pieces of us. That emptiness that we feel doesn't mean that we have nothing to give, or that we have nothing within us. It's just that we built our home in the wrong place.
―Najwa Zebian


Selama saya hidup, 24 tahun, saya belum pernah mengenal yang namanya self-love. Saya tumbuh jadi anak yang biasa menyenangkan orang, menghindari konflik; sehingga seringkali saya mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri saya sendiri. Saya cenderung anak yang nggak enakan, apa-apa minta maaf kalau ngerasa nggak enak. Termasuk dalam hal menilai diri sendiri, saya terbiasa mendapatkan pujian dari orang lain, tidak pernah memuji diri sendiri. Bahkan saya seringkali rendah diri (atau merendah) biar 'enak'.

Saya baru mengenal self-love baru-baru ini. Karena quotes dari Najwa Zebian di atas, saya menyadari hal yang baru ini saya harus pelajari karena saya kehilangan arah untuk 'pulang'.

Home isn’t a place. Home is anywhere, just as long as the people you love are there.

 ―Kristen Ashley

'the people you love' di atas, nggak pernah termasuk diri saya sendiri. Saya menempatkan diri saya ya sebagai saya yang love other people, subjek bukan objek, bukan sebagai pribadi yang harus dicintai juga. Nggak pernah!

Yang saya tau, yaa self-love itu: 
  1. the instinct by which one's actions are directed to the promotion ofone's own welfare or well-being, especially an excessive regard for one's own advantage
  2. conceit; vanity
  3. narcissism

http://www.dictionary.com/browse/vanity

Selama ini, menurut saya itu suatu keegoisan, narsis! Sampai akhirnya saya sadar kalo yang akan selalu ada ya diri kita sendiri. Selama ini saya selalu menghargai diri saya berdasarkan apa yang orang lain katakan, orang yang saya taro sebagai prioritas saya, sebagai 'main home', sehingga saya harus nunggu dulu dia bilang saya cantik, baru saya merasa cantik; saya pengen terlihat cantik cuma buat orang itu, bukan untuk diri saya sendiri, sehingga saat saya nggak dibilang demikian, saya merasa nggak cukup cantik. Demikian halnya dengan pekerjaan, saat saya ngerasa nggak bagus, ya saya akan minta maaf abis-abisan karena (saya merasa) mengecewakan orang lain; tapi saat saya mengerjakan sesuatu yang excellent buat saya, saya tetep nunggu orang lain bilang bagus, barulah itu bagus buat saya, kalo nggak, ya berarti nggak jadi bagus. Ini salah satu masukan dari bos magang saya, kurang-kurangin deh minta maaf, ganti dengan 'Saya akan berusaha lebih baik lagi kalau dikasih kesempatan selanjutnya.' "Soalnya kerjaan kamu nggak sejelek itu kok," katanya.

Iya, saya menghargai diri saya tidak setinggi yang seharusnya.

Ini saya rasakan sebagai titik balik, mengenal diri, mencintai diri sendiri nyatanya memang perlu, biar kebahagiaan kita nggak terbatas pada apa yang diberikan orang lain aja, tapi juga apa yang kita sendiri kasih ke diri kita. Kita bisa cinta sama orang lain segitunya, masa nggak bisa unconditionally love ourselves?

Mulai dari sini saya mulai banyak denger/ baca tentang how to love myself. Salah satunya ini Love Yourself. Sejak saat itulah saya mulai bisa menerima kalau saya worth it. (Masih belajar buat bikin ini terdengar ga sombong lol)


Membuat tulisan ini merupakan salah satu bentuk nyata saya mencoba loving myself. Kenapa? Karena di tulisan ini saya kayak kasihtau kekurangan saya, hal yang mungkin jadi salah satu dark side saya, yet one step of loving-yourself game is how to embrace your dark side. 

You are a human. Sometimes you’re stormy. Sometimes you’re placid. Sometimes you’re in between. You can’t be any other way. And that’s perfect.

Well, ini salah satu pelajaran yang menyenangkan banget. Suatu hal baru yang nggak pernah saya sadari saya butuhkan, sampai saya ditunjukkan ini di titik rendah dalam hidup saya. Kapan-kapan cerita tentang ini lagi yaa hehe mau tarawih pertama :') alhamdulillah.

Selamat puasa semuanya. Semoga puasa dan ibadah lainnya lancar, berkah, dan menyenangkan.

Love,
Nazmun❤

Image result for love yourself first quote

Friday, 11 May 2018

911 #3

Dear, my future son(s), daughter(s) / grandchildren / grandgrandchildren💖

Entah kenapa ya, 3 hari berturut-turut saya selalu dapet pasien emergency pas lagi (bahkan ga lagi) pelayanan. Hari ini pas saya lagi mau periksa pasien poli tiba-tiba temen saya bilang, "Mun, ruang tindakan."

What the... kenapa lagi, siapaaah...

Ternyata balita C, laki-laki, 13 bulan jidatnya berdarah-darah 😓 kepentok ujung tembok, luka terbuka ukuran 1x0,1x0,1 cm, dasar bersih, masih mengalir sedikit darah, lagi ditekan pake kapas sama bapaknya. Bapaknya menceritakan kejadiannya dan (yang saya tangkep) sedikit menyalahkan ibunya.

"Iya Dok, ibunya gantian jagain, saya lagi di dapur cuci piring (so kyut, love hearing a husband does domestic task) tiba-tiba udah kepentok ujung tembok."

Ibunya dari luar ruang tindakan cuma istighfar dan gamau masuk, ngga tega katanya. Untung bapaknya lagi nggak kerja.

Saya membersihkan luka pasien dengan normal saline dan kassa, yaa seperti saya biasa lah ya, tega (wkwk). C udah nangis-nangis kayak apaan, saya bersihin sambil liat sedalem apa, dalem ternyata. Ah, mager banget mesti jahit (tapi dalam hati, iya ini kesempatan belajar!)

Dokter pembimbing saya dateng dan ngeliat lukanya, "Iya, jahit 1 aja ya."

Nggak lama kemudian perawat dateng. "Oiya, bisa ini, Dok, satu aja. Dokter ya yang kerjain."

"Hehe mbak ajadeeeh, takut."

"Nggak, Dok, bisa."

Saya beruntung banget di lingkungan yang supportif gini, terutama buat saya yang takutan.

Dimulailah drama ini. Anaknya teriak-teriak meronta-ronta saat saya aseptik. DUH!

"Ini, Dok jarumnya. Di tengah aja, Dok, masukin dalem ya."

Degdegdeg.... 

Rasanya nusukin jarum ke kulit beneran... ya gitu ya. Anaknya meronta-ronta (yaiyalahya ga dilido wkwk ya abis dilido suntik lagi kan), jarumnya belom keliatan keluar wkwk duh pokoknya tangan saya udah merinding disko deh.

Sampe akhirnya jarumnya berhasil keluar. YES!

"Dok, ini bukan ujian, Dok, gemeter banget."

HEHE😅

Oiya, saya sebelumnya pernah hecting, tapi di perineum dan cuma 1 jahitan doang juga. Pas bedah cuma observvvv hhh dasarnya belom rejeki.

Saya suka banget pegang alat, suka banget sama ngejahit-jahit gini, hehe semoga bisa jadi dokter yang ada bedah-bedahnya, aamiin.

Akhirnya drama selesai. Anak C ini akhirnya capek sendiri bahkan sampe tidur saking capeknya nangis.

Alhamdulillah... alhamdulillah. Emang cuma Allah yang bisa kasih rejeki dan kasih kekuatan, kelancaran buat bantuin orang.

Selamat liburr💋

Yours truly,
Nazmun❤

Thursday, 10 May 2018

911 #2

Dear, my future son(s), daughter(s) / grandchildren / grandgrandchildren💖

9 April 2018, pukul 08.00
Cerita kedua datang dari seorang ibu, Ibu B usia 39 tahun, datang dengan keluhan utama nyeri kepala bagian belakang seperti dipukul-pukul sejak tengah malam, yang memberat saat pasien datang ke Puskesmas kelurahan.

Saat itu, saya sedang bersiap-siap menuju ke lantai 2 untuk mempersiapkan vaksin. Saya bertugas pergi ke Posyandu pagi itu. Karena saya sedang tidak bertugas di pelayanan poli umum, saya hanya melewati Ibu B yang sedang menangis sambil menutup mata dan merintih kesakitan. Keluarganya (yang belakangan diketahui adalah tetangganya) sedang mendaftarkan pasien.

((saya males kalo nyamperin berarti saya harus pegang pasiennya, padahal bukan giliran saya. Terus sambil naik tangga saya mikir, Astagfirullah kok bisa-bisanya ngelewatin pasien lagi kesakitan gitu, di mana sih perasaannya.))

Akhirnya saya kembali menghampiri pasien dan meminta pasien masuk ke ruang tindakan. Dokter pembimbing saya juga datang (rintihan pasien memang cukup terdengar sampai ke ruang poli). Saya periksa tanda-tanda vital pasien. Kesadaran compos mentis, tensi 150/80, nadi 92x/menit, respirasi 20x/menit, suhu 38,9०C, skala nyeri 8, saturasi 99. Saya assess tanda kegawatan, tidak ada rangsang meningen, kelemahan anggota gerak ataupun bicara rero, tidak ada refleks primitif, tidak ada keluhan penglihatan buram, mual muntah. Oke, mungkin memang ke arah infeksi.

Karena pasien masih bisa teriak-teriak dan bisa bangun untuk minum obat, saya memberikan parasetamol 500 mg. Melonggarkan baju pasien, meminta pasien tenang, tarik napas lewat hidung, keluarkan lewat mulut; berhenti menangis.

Saya mulai anamnesis. Pasien datang dengan keluhan nyeri kepala berat pada bagian belakang seperti dipukul-pukul sejak tengah malam, sudah diberikan parasetamol, nyeri berkurang. Pagi sebelum datang ke Puskesmas, keluhan kembali memberat sehingga pasien meminta tetangganya menemani ke Puskesmas. Keluhan disertai demam sejak 2 hari yang lalu, muncul mendadak. Tidak ada keluhan mual-muntah, batuk, pilek, BAB cair, nyeri saat BAK, kejang, mimisan, gusi berdarah, bintik-bintik merah di kulit. Keluhan nyeri kepala seberat sebelumnya tidak pernah dialami. Riwayat nyeri kepala hilang timbul +/-5 bulan, dirasakan semakin memberat (ini meragukan sih karena data medrek pasien tidak berobat untuk nyeri kepala, namun vertigo. tapi saya sempet mikir jangan-jangan tumor intrakranial😅).

15 menit berlalu, pasien mulai mengeluarkan keringat, suhu turun 36,9०C, tensi bagus 120/70. Saya tanyakan kembali berapa skala nyeri kepalanya, pasien berkata (sambil nangis, tapi sudah mulai bisa membuka mata lebar-lebar), "Masih Dok, masih sama seperti saya datang. Kenapa ya, Dok, saya sakit apa ya, Dok? Saya nggak punya siapa-siapa, anak saya di Surabaya." (padahal sebelumnya beliau bilang pagi tadi mendingan jadi suami saya berangkat ke kantor, jadi kan punya suami ya😅)

"Bu, kami masih menilai kondisi Ibu, untuk sejauh ini kemungkinan karena infeksi karena ibu mengalami demam. Ibu jangan sambil nangis, nanti makin nyeri kepalanya." Saya berkata menenangkan.

"Bude, mau ditelepon Pakde nggak, biar pulang nemenin Bude?" Tetangganya yang mengantar bilang.

"Boleh, Nduk. Hpnya ada di rumah, di atas meja, tolong bilangin yaaa (masih menangis)."

Saya mengusulkan pemeriksaan darah lengkap. Hasilnya Hb, Ht bagus, leukosit 6000, trombosit 168.000. Pas-pasan, makin kuat dugaan ke arah Infeksi Dengue (terutama setelah salah seorang sejawat saya bilang, "Wah dulu gue dengue nyeri kepala banget emang, nggak pernah gue rasain yang nyeri kayak gitu.")

Iya. Saya baru nyadar ambang nyeri orang beda-beda. Dari awal pasien datang, saya menganggap ini thunderclap headache, langsung kepikirannya wah ini jangan-jangan stroke, atau jangan-jangan meningitis.

Saya diskusi sama pembimbing saya. Kami setuju pasien tidak perlu dirujuk, hanya perlu diobservasi melalui pemeriksaan darah serial untuk berjaga-jaga siapa tau trombositnya makin turun, mengingat demam belum mencapai hari ketiga.

Saya kembali ke pasien. Saya tanyakan kembali skala nyerinya, beliau masih juga menangis dan bilang masih sama, sambil menunjukkan ketakutan akan penyakit tertentu.

Saya edukasi pasien. Saya menjelaskan hasil lab kemudian menyampaikan sejauh ini mengarah ke infeksi dengue, infeksi ini dapat dilawan sistem imun kita, jadi PR ibunya adalah mencukupi nutrisi, minum, dan istirahat. Saya juga menyampaikan apabila keluhan kembali dirasakan sebaiknya pasien datang ke IGD (bukan ke Puskesmas kelurahan 😅) dan diperiksa ulang darahnya sekitar 6-8 jam lagi. Nanti kita tunggu suami ibu ini datang, kemudian ibu bisa istirahat di rumah. Apabila nyeri kepala masih ada setelah demam turun, atau semakin memberat, ibu bisa meminta rujukan ke poli saraf. Ditambah bumbu-bumbu menenangkan namun tetap waspada ala dokter-dokter lainnya, ibu ini akhirnya mulai berhenti menangis dan bilang skala nyerinya 5. Wow, the power of words.

Suaminya datang dan kami edukasi ulang. Pasien akhirnya pulang.

Well, pelajaran sih. Ambang nyeri orang beda-beda, ketakutan orang akan penyakitnya juga berbeda-beda, bahkan definisi nggak punya siapa-siapa juga beda 😅😆 jadi jangan ngejudge!

Selamat hari libur (kejepit) nasional 😪

Cheers,
Nazmun❤

L’idée #2

Sometimes we tend to fake the smile, in order to hide the sadness; why couldn't we fake our sorrow to conceal our joy?
❤(maybe) in order to make people don't feel bad about themselves? 

L’idée #1

Sudah, sudah bisa memaafkan. Tapi, seperti dia yang nggak bisa menyalahkan perbuatannya, saya pun nggak bisa membenarkan yang sudah dia lakukan.

Written in the Stars

Pengen serius dulu meski isinya sebenernya bakal jadi cheesy pisan plus menertawakan diri dalam hati sih, kenapa bisa ada dalam posisi ini?...