Monday, 27 October 2014

-

Belajar dari Mama dan Ayah.

Kemarin saya pulang ke Jakarta. Mencoba memprioritaskan ini dibanding apa pun. Ternyata masalahnya bukan karena Mama, Ayah, dan Ubay yang butuh saya, tapi saya yang butuh mereka.

Tempat pulang. Tempat saya merasa dicintai unconditionally. Tempat yang gaakan memunculkan drama karena tidak diprioritaskan.

Mama selalu mengerti ketika saya tidak bisa pulang karena ada acara kemahasiswaan.

Ayah selalu ikhlas2 aja kirim uang buat saya, padahal sayanya ga pulang karena kemahasiswaan.


Kemahasiswaan yang sebenernya selalu akan urgent dan meminta untuk diprioritaskan, jadi kasie yang berarti harus selalu ada karena norma "masa kasienya ga hadir"


Kemahasiswaan yang nyatanya tidak pernah diamanahkan orangtua saya kepada saya. Yang diamanahkan hanyalah belajar, jadi dokter yang baik, kejar cita-cita saya dulu, ketika pertama kali masuk sini, ketika saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk meyakinkan Allah bahwa saya akan jadi dokter yang baik.

Gimana mau baik kalau kerjaannya cuma di kemahasiswaan lalu ke kos dalam keadaan capek pikiran dan badan, lalu bobo?




Saya pulang ke Jakarta jumat kemarin, 6 jam perjalanan karena macet parah. Ketika sampai rumah, saya masih bisa ingat gimana rasanya. Saya merasa tidak habis duduk di bus selama itu. Saya merasa dipeluk erat sampai seluruh ATP yang saya keluarkan untuk capek di jalan, digantikan. Saya senang mencium tangan ayah dan dicium mama.



Saya merasa dapat energi luar biasa besar.


Dan ketika saya bisa ikut mama di warung nasinya, saya benar2 bangga sama beliau. Saya begitu bangga karena beliau tidak mengeluh, padahal semalamnya mama saya habis nonton Arjuna (iya, mahabarata itu, beliau seneng banget) sampai tengah malam, lalu beliau hrs bangun pukul 2 menyiapkan ayah sahur, lalu jam 4 sudah harus siap2 di warung nasinya.


Mama ga pernah ngeluh, meskipun beliau kurang tidur, tapi beliau tau itu karena hobi beliau nonton haha dan ya, kewajiban tetaplah kewajiban.


Saya berkaca. Saya bilang ada di dalam PKM adalah passion saya, saya senang melihat orang lain senang, tapi apa? Ada di sini malah melalaikan kewajiban utama saya dan.... ya ini salah.





Saya tidak bisa menyalahkan PKM, seperti halnya mama yang gapernah menyalahkan hobinya menonton Arjuna. Meski tidak sama, tapi jika dipikir-pikir bedanya tipis.



Pelajaran kedua adalah penerimaan dan memaafkan. Lagi-lagi mama. Beliau semacam menjadi tumpuan hidup keluarganya. Keluarga mama ada di Kuningan, Jawa Barat, dekat Cirebon. Adiknya yang pertama sakit sudah lama, hingga sekarang belum sembuh-sembuh dan mama yang membiayai pengobatannya. Mama kemarin (ketika saya datang) lagi nabung buat kirim uang. Adiknya yang kedua juga sedang kesulitan di keluarganya (dia perempuan dan sudah menikah dan punya anak), ketika datang kembali ke Jakarta, sekitar 5 bulan yang lalu, kondisi keuangannya sedang benar2 parah, bahkan untuk makan pun susah. Akhirnya mama yang membiayai hidupnya, dikasih uang untuk ngontrak rumah, beli makanan, beli susu untuk anaknya dll. Padahal adik mama saya ini cukup banyak mengecewakan mama. Saya aja kesel banget, tapi ketika adik mama ini datang beliau cuma bilang, "kesel banget sih, cuma yang namanya adek, ketika sulit ya ga tega juga)"


akhirnya mama membiarkan dia kerja di warung mama sampai sekarang, sampai suaminya kembali dapat pekerjaan dan udah lumayan bisa membiayai kontrakan sendiri. Dia tetap mama gaji seperti halnya karyawan mama. Saya bangga banget sama mama, beliau memang bukan wanita berpendidikan tinggi, tapi hatinya begitu besar dan jiwanya kuat. Beliau punya banyak sisi malaikat yang saya suka ga ngerti kenapa ada manusia yang baik banget kyk mama. Saya bangga mama bisa buat lapangan pekerjaan untuk orang lain. Saya bangga banget dan saya bener2 ngerasa gaada apa2nya dibanding mama. Secuil pun.


Dari cerita mama dan adiknya, saya bisa mengambil lagi satu pelajaran, bahwa ya, menerima dan memaafkan itu emang susah. Susah banget, ada banyak sisi di mana kita mau memunculkan ego kita, mau orang tau kita marah, mau diperhatikan. Tapi, ketika berbenturan sama sodara sendiri, itu akan menjadi susah banget, susah banget buat ga maafin.


Dan itulah yang lagi mau banget saya munculkan, anggapan keluarga sendiri kepada siapa pun yang saya lagi keselin.

Toh, gaada gunanya juga bikin perasaan orang lain jadi merasa bersalah kan? Ketika ada kata maaf, mgkn saya harus biasakan untuk memaafkannya, bukan malah balik jadi kyk dia, melakukan kesalahan. Bahkan mungkin saya harus maafkan sebelum orang itu minta maaf ya.

Kalo menurut kata bijak yang sudah jelas klise namun benar: Allah aja Maha Pemaaf, masa kita yang cuma hamba-Nya gamau memaafkan?


Iya, begitu kira-kira.


Wednesday, 22 October 2014

Cuma Mau Cerita

Cuma mau cerita aja. Karena saya ngerasa masalahnya adalah di dalam diri saya sendiri, tidak untuk diceritakan kepada orang lain dan diberikan solusi apa pun.

Sebagai seorang yang berkepribadian feeling, perasaan menjadi hal penting yang saya perhatikan. Ya perasaan saya, juga perasaan orang lain. Tapi, tetap, perasaan saya lah di atas segalanya.

Saat menjadi ketua seksi, saya jadi mulai menggeser pemikiran tersebut, bahwa saya harus berkorban untuk 'anak-anak' saya, saya harus bisa bikin mereka enjoy di sini, saya harus blablabla, sampai di satu titik di mana saya menemukan quotes ini


quotes ini saya temukan pada saat saya udah di titik gatau lagi harus berbuat apa, ketika salah seorang anak saya malah ngerasa ga seneng di sini, saat saya nyadar ada anak2 yg belum berkembang, ada yang akhirnya perlahan pergi dari saya, dan yang terang2an pergi, padahal udah janji mau nemenin.

Mereka yang saya pikirin banget perasaannya, nyatanya (mungkin) ga mikirin perasaan saya dan saya nyadar kalo waktu saya udah lumayan terbuang buat cuma ngejar beberapa dari mereka, buat tetep sama saya, karena saya pikir mereka harus senang~

Ya, dunia tidak selalu berjalan sesuai yang kita mau. Tetap ada aja yang benci sama saya, tapi alhamdulillahnya masih ada yang baik banget.

Mulain dari quotes itu saya mulai bangkit lagi. Kasarnya: saya lebih baik meninggalkan orang2 yang udah ga peduli lagi sama seksi ini, lebih baik saya fokus sama yang masih seneng di sini. Mulai dari sini, saya ngerasa saya lebih egois, saya mencoba buat bertindak berdasarkan pikiran dan logika, mulai kesampingkan perasaan, apalagi perasaan orang. Saya ngerasa saya jahat.


Sampai pada kenyataan (lagi) bahwa saya memang dianggap jahat sama salah seorang anak saya. Saya melakukan berbagai kesalahan yang saya bahkan ga sadar kalau itu sebuah kesalahan.

Kalau urusannya sudah sama perasaan, saya juga gabisa nyalahin sih, tapi menurut saya ini begitu kekanak-kanakan.

Tetap ternyata, dari lubuk hati yang terdalam, perasaan saya bilang kalau saya tidak salah. Sudah, titik. Tidak boleh ada yang menyanggah.

Saya mau banget marah2 sama ini anak.

Saya mau banget bodo amat.

Saya mau banget juga ngomong langsung biar dia ga childish terus kayak gini.

Ya, intinya saya mau coba lari tapi saya ngga bisa :') mau menghadapinya pun susah krn saya menghargai perasaan dia, yang mungkin tetap saja di atas segalanya.

Saya akhirnya cuma bisa cerita di sini. Saya cuma bisa cerita sama Allah.



akhirnya dengan malu, saya kembali lagi ke pencipta saya, kembali ke yang mampu membolak-balikan hati manusia. Saya cuma bisa berharap saya segera diberikan keberanian untuk mengatakan apa yang saya mau katakan, demi anak saya itu, karena kadang kita begitu menjaga perasaan org yang kita sayang dan akhirnya memilih untuk diam, bahkan diam padahal tau itu salah.

Saya juga berharap semoga dia segera sadar bahwa tidak sedikit pun, ya, mungkin hanya Allah yang tau, tidak sedikit pun saya benci sama dia, mau berbuat ngga adil atau apa. Saya cuma berbuat sesuai logika saya aja, sambil mencoba buat lebih fleksibel dan menyampingkan perasaan.

Karena kamu juga kan yang bilang aku terlalu feeling ;)



Sekarang (lagi-lagi) saya mencoba utk ga peduli sama pandangan org ke saya, biar aja saya jelek, yang penting saya ga maksud gitu.


Semoga Nazmun bisa lebih kuat lagi.... aamiin.


Sunday, 28 September 2014

Tentang Mimpi

Saya akan ceritakan sisi manusiawi dari seorang ketua seksi. Yang hidupnya jauh dari kata berbakti, tidak pula ikhlas hati.

Jauh dari kata lurus, niat orang ini selalu diuji, semakin jauh dari kata lurus, namun selalu ada cara Sang Pencipta-nya menuntun orang ini kembali pada jalan yang tidak membuatnya terlalu jauh, terlalu jauh untuk sia-sia.

Saya akan ceritakan tentang bina desa :)
Bina desa FK Unpad, acara yang kami, Pengabdian Kepada Masyarakat Kema FK Unpad, rintis bersama Community Development CIMSA Unpad.

Program yang sembilan bulan lalu hanya menjadi mimpi saya... tidak, mimpi teman-teman saya, PKM 2012 lain, yang saya jalani... hahaha akhirnya saya jujur di sini, bahwa ini bukanlah mimpi saya sepenuhnya, saya memikul mimpi orang lain yang berbulan-bulan saya coba akui sebagai mimpi saya juga. Ternyata lelah rasanya mengejar apa yang tidak ingin kita kejar. Sulit menjalani apa yang kita pikir memang berat. Tapi, benar adanya bahwa Allah tidak akan menempatkan hamba-Nya di posisi yang ia tidak bisa pikul.

Meskipun lebih berat dari biasanya, alhamdulillah di depan jalan saya, terdapat orang-orang hebat yang muncul dan membantu meringankan beban saya, membantu membawakan beberapa di antaranya, atau banyak juga yang memberikan kata semangat... dan saya yakin ada doa yang saya tidak tau pernah dilantunkan untuk saya.

Saya bersyukur, saya menerima amanah ini. Saya bersyukur Allah mempercayai saya untuk memikul ini. Saya bersyukur Allah pertemukan saya dengan orang-orang di jalan ini.

Ya. Di saat saya lelah, saya bersyukur ada banyak orang yang mau merelakan waktunya semenit dua menit, bahkan berjam-jam untuk mendengar keluhan saya. Lebih daripada itu, seburuk apa pun saya, saya bersyukur Allah masih mengizinkan saya menemui kebesaran-Nya di atas sajadah. Menangis dan membentangkan seluruh pita-pita masalah di atas doa-doa kepada-Nya. Memasrahkan hidup kepada pencipta kehidupan.

Saya masih bersyukur air mata ini masih bisa keluar hanya saat di depan-Nya, tidak di depan orang lain. Saya bersyukur masih banyak orang lain yang mau membantu saya menemukan hikmah dari apa pun yang terjadi.


Di dalam menjalankan mimpi ini, saya akhirnya menemukan satu hal, bahwa terkadang ada mimpi-mimpi orang lain yang akan menjadi jalan bagi kita untuk mendapatkan pelajaran. Ada masih banyak orang yang tidak peduli ini mimpi saya atau bukan, yang jelas mereka mau membantu. Masih banyak orang yang rela mengepalkan tangannya ke atas sambil berkata 'semangat' untuk menyalurkan energi positifnya ke saya. Masih banyak orang yang mengamini doa-doa saya di timeline line. Dan masih banyak orang yang mau menjalani mimpi orang lain.



Kita akan terus menjalani mimpi, entah itu mimpi kita sendiri, atau mimpi orang lain, yang pasti si Empunya Dunia akan menyediakan jalan terindah untuk kita lalui, sepahit apa pun pasti ada manisnya, karena kita akan menghargai manis ketika pernah mengalami pahit.

Terima kasih bina desa FK Unpad, atas senyum, tangis, tawa, bahagia. Haha bahkan hanya ada satu tangis, selebihnya bahagia, semoga akhirnya akan sesuai dengan harapan semuanya, aamin.


Ditulis di kamar kosan, pada hari pembukaan bina desa FK Unpad, 28 September 2014.

Friday, 5 September 2014

Bersyukur, apalagi?

apalagi yang harus disebut selain syukur?

bisa bersama 15 orang hebat dalam suatu seksi. menjalankan satu proker hebat yang masih abu-abu. kelak akan jadi warna-warni.

apalagi selain syukur? bisa kenal sama 7 anak 2013 yang masih tahun satu tapi udah keren2 banget, bisa kenal sama 8 orang 2012 yang semuanya luar biasa juga.... apalagi ya?

haha sebenernya (setelah lama ga nulis) saya nulis ini krn perasaan alhamdulillah setelah berhari-hari terbebani sendiri.

awalnya hanya karna piket ruang kema.

yang bisa dateng dikit haha sampe2 cuma saya, didi sama ratri doang. sedih sih, saya nyapu-nyapu dan alhamdulillahnya didi datang. lagi rame banget di fk karna dia jadi perwakilan putra-putri padjadjaran dari fk.belum denger aja ceritanya langsung jd seneng juga cengcengin haha

jadilah saya ngepel berdua didi (di ruang kema udah rame orang yang mau rapat). trus ngatain dia kalo lagi ngepel aja ganteng hahaha iyasih emang si didi mah figur model gt badannya bagus mukanya cakep hahaha bangga jg punya anak kyk didi.

tak lama ratri pun datang dan ngepel saya digantiin dia, saya cuma jd emak2 bawel teriakin sana sini. setelah ngepel, kita mojok bertiga, widya pun dateng. kita jadi ngobrol bertiga, awalnya cuma minta tolong didi ceritain crisis center dan hambatannya, tapi akhirnya malah dengerin cerita dia yang rame banget tentang proses terpilihnya dia jadi putra padjadjaran dari fk wkwk

dan ketika denger dia cerita, saya jadi seneng sendiri. saya jadi ngerasa bersyukur banget, at least bisa denger ceritanya didi, ya, saya ngerasa pkm bisa jadi tempat dia cerita rame2an tentang pengalamannya, bukan cuma soal proker ajaa.

ketika bonding dulu, bonding pertama, saya bilang kalo saya mau banget pkm jadi "tempat pulang", ketika capek di mana2, dan rasanya mau cerita tentang pengalaman di luar sana, pkm bisa jadi dua telinga yang siap denger kapan aja, sama kyk keluarga yang ada di rumah dan siap diceritain apa pun, kapan pun. tempat pulang.

walaupun didi ga bilang gt, saya udah bersyukur obrolan tadi sore adalah obrolan ringan ala temen, bukan obrolan proker.


saya jadi inget lagi kenapa saya bisa sayang banget dulu sama pkm, kenapa saya mau jadi kasie, bahkan kenapa saya tetep mau lanjut di pkm.

kenapa saya ngga ambis aja, kenapa saya ga jadi anggota aja


karena kepercayaan saya terhadap keluarga saya, saya percaya kalau pkm 2012 bakal bantuin saya. bahkan bukan cuma 2012 aja, tapi juga generasi2 sebelumnya.

saya yakin pkm 2012 masih mau bantu saya, cuma waktunya aja belum ada.

saya tahu amanah tak akan salah memilih tuannya. kalimat klise, namun benar.




saya bersyukur. masih ada ratri yang mau-mauan bikinin tor buat donor darah, bahkan dia ngga tau acaranya itu kyk gmnnya haha. seneng banget krn ya... masih ada orang yang ikhlas mau maksain dirinya mau ngerjain sesuatu.

saya bersyukur masih ada gita dan ean, ketua bindes yang strong, teruji kekuatannya, meskipun menjalankan sesuatu yang masih abu-abu, bahkan warnanya belum terlihat. tapi akan menjadi pelangi kok saya yakin hehe

bersyukur juga ada dhea dan riva, dua anak kebidanan yang fighting spiritnya begitu tinggi, energinya positif banget, membawa semangat juga buat saya kalo lagi down2nya.

begitu bersyukur masih ada didi dan fithyan, duo amp super yang udah kyk sodara banget. mereka saling menguatkan. saya malah yang ngerasa masih belum bisa mengembangkan mereka, padahal mereka bisa jadi arvin dan fachri, beberapa orang kebanggan pkm dan fk unpad bahkan.

bersyukur juga karena masih ada nessa dan opa, walaupun mereka banyak kesibukan di luar, tapi opa masih mau mikirin bindes, nessa masih concern ke cc dan mau jg ikutan baksoswil. haaa mereka :') kangen hehe

bersyukur lagi karena ada widya dan virza, 2012 tapi kemauan kontribusi di pkmnya begitu tinggi. virza yang selalu solutif dan widya yang selalu membawa ketenangan haha

bersyukur banget krn masih ada arvin, orang yang meluluhkan saya sampai akhirnya mau berjuang banget buat bindes ini. gerakannya radikal, tp dia begitu jadi figur pkm banget buat saya. dia luar biasa.

fachri. udah begitu luar biasa sih orang ini semuanya juga tau. saya cuma seneng aja banggain bahwa dia anak pkm juga loh. iya! :) udah terlalu susah dideskripsiin gmn saya bahagia sekaligus bangga kalo bisa ngobrolin pkm sama dia. cuek2 tapi peduli sih hahaha

surya. dia ada aja saya udah bisa melepas galau berpuluh2 persen. ikhlas banget orangnya dan baik banget, mau bantu banget dan bersyukur ada surya di pkm, banget! dia temen seperjuangan saya dari jaman pengen masuk pkm haha

cecep. alhamdulillah cecep masih jd cecep yang sungguh luar biasa ke puskesmas dll wkwk cecep masih punya semangat ke masyarakat setinggi itu. alhamdulillah. cecep sih kalo dijadiin lagu kyk takkan terganti gt, gaakan ada yang jd cecep kedua sih, cuma dia yang bisa seakrab itu sama pak rt haha

kiki. kalo ada kiki saya jadi tenang banget gatau kenapa. kiki emang dari dulu saya perjuangkan banget supaya tetep bertahan karena saya butuh dia. dia semacem penyeimbang gitu, sering diem tapi sekalinya ngomong... begitu membantunya. saya juga bersyukur banget ada kiki

nd. udah gaada di struktur tapi tetep bantu? haha menggugurkan kepercayaan saya sama kata teteh2 senior bahwa kalo udah ga di struktur udah pasti gabakal bantu lagi. ah kata siapa? nd buktinya, dia tetep bisa ikutan rapat pkm dan bahkan bantu survey juga di samping amanahnya yang luar biasa besar: koor megabaksos, koor asssessment oppek, ismki, bem unpad, tma... apalagi de? haha

udah semua kan?



makin bersyukur dan ya, Allah baik kan mun? haha

makasih ya Allah udah bisa bareng2 mereka

semoga di sisa kepengurusan ini bisa bermanfaat lagi


makasih ya pkm :')

Friday, 4 July 2014

Belajar dari Banyak Hal

Belajar. Dari mama yang begitu baiknya menutupi kakinya yang sakit. Sekitar 3 minggu lalu, sebelum saya ujian OSCE, mama terkena musibah, kesiram air panas kakinya ketika masak di warungnya. Warung nasi kecil yang -mungkin- berarti besar bagi pelanggan setia warung tersebut, tukang bangunan. Mama abis ngerebus sesuatu ceritanya, terus taro itu di bawah, dan ngga sengaja keinjek. Akhirnya kaki beliau kesiram air panas deh, burn injury grade 2, which is ada bullae dan amat sakit. Tapi mama ngga kasitau saya, saya baru tau seminggu kemudian, ketika kembali ke rumah. Saya kaget dan ya... sedih banget lah, ngeliat penampakan kaki mama yang.... pasti sakit :(

Mama bilang beliau sengaja ngga cerita soalnya takut saya jadi terganggu ujiannya, apalagi ujian OSCE yang hafalan semua. Mama takut saya paksain diri pulang.

Coba deh, mungkin mama bidadari yang turun dari surga, literally. Ya perasaan saya campur aduk ketika itu, mengingat case kedelapan dermatomusculoskeletal system (DMS), burn injury, yang sedihnya ibu saya sendiri yang kena;
mengingat gimana caranya wound care, ngebanjur luka pake normal saline, gimana saraf sekitar situ jadi ikutan kena sampe mama susah jalan, dan denger penderitaan mama krn susah mau kemana2 dan bahkan nyari makan pun susah :(

Mama beneran ngga kasitau saya apa pun, kami teleponan seperti biasa, nanya kabar masing2, hari ini ngapain aja, biasanya saya nanya hari ini mama dapet penghasilan berapa, mama nanya ujian saya gimana, dst. Semua biasa aja, mama cuma bilang "uangnya belom diitung" dengan suara yang lemes banget, saya cuma nanya mama kenapa dan beliau cuma jawab baru bangun tidur. Saya inget waktu itu saya malah ngegalau OSCE yang materi anamnesisnya banyaaaak banget :(

Saya cuma sedih aja karena saya bahkan ngga bisa apa2 waktu mama sakit. Trus saya sempet2nya bete banget pas abis OSCE karena station diffcount sama HT immunology saya udah pasti failed dan saya harus remed. Haaaa, mama lagi nahanin sakit saya malah nambahin pikiran beliau.

Mama cuma minta saya segera pulang buat bantuin daftar smp adik saya, karena beliau bilang beliau ngga bisa. Bahkan buat nanya2 ke sekolah pun ngga bisa. Iya, karena mama bukan se-nggak-ngerti itu, tapi emang beliau susah jalan :( saya akhirnya alhamdulillah bisa ngga ikutan proyek TMA, saya bisa langsung pulang jkt hari Jumat setelah remed OSCE.

Begitulah... gimana seorang ibu ngga pengen anaknya repot. Beneran, mama bahkan cerita pas saya udah di jakarta, bahwa beliau pengeeeeen banget curhat, ngeluh soal sakitnya gmn, cuma nahan2 diri banget, bahkan melarang siapa pun, sodara2 saya buat ngomong ttg kondisi beliau.

Saya benar2 belajar dari ketulusan hati seorang ibu. Bukan pencitraan, bukan basa-basi, bukan biar dibilang baik, tapi emang karena sayang sama anaknya. Trully angel comes from heaven.

Akhirnya saya jadi full-time nurse buat mama dan juga 'mama' bagi adik saya buat nyari sekolah. Saya nemuin lagi banyaaak banget pelajaran, salah satunya adalah kesabaran orangtua nemenin anak2nya nyari sekolah, saya jadi inget perjuangan mama nemenin dan nungguin saya SNMPTN yang jauhnya naudzubillah. Mama ngga pake ngeluh ya :') dan beratus2 ibu2 dan bapak2 di smp tempat saya daftarin adek saya juga gt, mereka sabar banget.

Saya jadi tau banyak smp karena nemenin adek saya nyari2 smp deket rumah. NEM adek saya ngga cukup tinggi buat lulus tahap pertama, ya jadi sekarang masih nunggu tahap kedua, sepertinya gagal lagi, jadi ya kemungkinan bakal sekolah di sekolahnya dulu, MTsnya. Oiya, tahapan daftar smp ini juga ribet banget loh, saya bener2 lama banget ngertiinnya, dan mikir aja, gimana ibu2 dan bapak2 yang jarang bersentuhan sama internet menyikapi ini, mereka pasti kerepotan, tapi lagi2 buat anak, apasih yang engga?

Emang ya, cintanya orangtua itu ngga ada yang bisa nandingin.

Saya menikmati seharian dan berhari2 di rumah bareng mama, nemenin mama, ngerawat lukanya dan belajar banyak banget tentang burn injury, haha emang belajar kalo langsung ke pasien, apalagi pasiennya orang yang kita sayang, beda ya.

Lagi2 pasien DMS untuk saya dateng. Kali ini adik saya sendiri. Siang2 dia masih ketawa-ketiwi gatau ngetawain apa, katanya sih kalo ketawa jadi lebih cepet waktu berjalan wkwk anak kecil. Ya, meskipun kecil, dia udah bisa naik motor sndiri loh, mengendarai motor. Sore2 dia bilang mau ke alfamart bawa motor, trus nanya saya nitip apa. Cukup lama dan emang perasaan saya ngga enak. Ternyata dia jatoh dari motor :( dia pulang2 udah pincang2 gt dan bilang motornya rusak. Kuku kakinya ilang dua :(

Menyeramkan, tapi adek saya udah gede ternyata, dia ngga nangis sama sekali dan sekuat itu loh menceritakan kronologis kejadiannya, asik.

Dari tempat kejadiannya dia melewati warung mama dan sekuat itu bawa motor sendiri. Dia ngga bilang mama yang ada di sana krn katanya takut dimarahin motornya rusak. Mama justru marah banget krn ngga bilang mama kalo abis jatoh.

Lagi2 pelajaran tentang sayangnya orangtua.

Huff, saya lagi2 belajar tentang luka haha, saya ajak adek saya ke dokter dan dokternya bersihin luka adek saya yang udah huuuuu menyeramkan!

yaudah deh. saya gatau ini musibah lagi apa bukan, tapi saya yakin Allah mau kasih kami pelajaran yang mungkin harus lewat itu, ujian musibah, apa pun itu disebutnya, saya bersyukur punya mama dan adek yang begitu luar biasanya, juga ayah dengan semua yang bisa saya pelajari. Saya bersyukur.

makasih ya Allah :)

Tuesday, 17 June 2014

OSCE season 2, sesi makin cinta

hai...
OSCE kali ini saya kurang persiapan, padahal sudah tahu bahannya banyaaaaak sekali dan butuh dihafal.
dan saya ngga gitu suka hafalan. atuhlah gmn mau jadi dokter haha, maksudnya lebih seneng dimengerti setiap prosedur sehingga hafal krn udah ngerti.

tapi OSCE kali ini memang ngga bisa kyk yg semester lalu, belajar h-2 h-1

ya tadi ada dokter yang semalaikat itu lah di station basic life support, bener2 bantuin, nungguin saya bisa ngasi napas dengan benar, dan pas saya keluar beneran kasi semangat, "semoga sukses yaaa!"

dokter apa malaikat sih baik banget :')

ada juga yang ganteng dan ngajarin sutur yang bener gimana, bener2 unyunya bilang, "ini daerah steril dan saya adalah asisten kamu, jika butuh apa2 bilang saya, saya juga sekaligus pasiennya."

emang beda2 ya dokter tuh. ada yg ngebet pulang krn udah sore banget, ada yg sibuk main hp, ada yang bener2 diem dari awal sampe akhir, dan yang paling unyu adalah ibu standardized patient (SP)

baiknya ga ketolongan deh... ngingetin saya coba waktu lupaaa huhuhuu

yak, walaupun OSCE kali ini fix failed di station diffcount, cuma yaudahlah, bismillah aja, semoga lulus pas remed dan ngga banyak remed, aamiin

makasih banyak ya Allah....

Monday, 9 June 2014

papaya


alhamdulillah, masih punya papaya basis bandung di dekat saya.
walaupun fotonya failed kmrn karena boxnya kecil banget. walaupun kmrn niatnya cuma mau cfd, tapi keterusan sampe ke ciwalk, sampe makan siang bareng, sampe nonton, i love the way we spent our time together, ga jelas, jalan ke sana ke mari, nggak direncanain, tapi membahagiakan. beberapa tahun lagi, kita ketemu ya, udah dalam wujud masing2, pendapatan masing2, pasangan masing2. i love you!

Written in the Stars

Pengen serius dulu meski isinya sebenernya bakal jadi cheesy pisan plus menertawakan diri dalam hati sih, kenapa bisa ada dalam posisi ini?...