hai! setelah sekian lama vakum dengan tulis menulis blog, saya kembali membawa cerita seru dari lecture hari ini. Dimulai ketika saya kesiangan karena tidur lagi sehabis subuh, jadilah saya pontang-panting sendiri. Terus gataunya dokternya belum dateng.
Jujur, saya seneng hari selasa, soalnya bisa ketemu dokter dengan berbagai sifat. Mulai dari yang ngomong sama slide, yang nyerocos tanpa kita ngerti lagi ngomong apa, sampe seperti hari ini, dokter farmako kami yang begitu sabarnya ngejelasin, sampai semuanya mengerti. Iya, semuanya. Sepertinya dokter ini begitu
angel-nya sampe gamau ada muka bingung di antara kami. Beliau sepertinya benar2 maunya kami gausah belajar lagi juga inget pas ulangan, baik sekali bukan :') terharu.
Terus kuliah PHOP, di mana dokternya juga sangat luar biasa berusaha agar kami bisa mengerti isi lecture beliau dengan menghubungkannya ke kehidupan nyata.
How to set up a program. Kalau kita mikir program itu kayak yg dibuat pemerintah, atau yg paling sederhana (tapi tetep ribet) yaitu program kemahasiswaan, dokter ini begitu kerasnya berusaha untuk mencari yang lebih sederhana lagi, yaitu kehidupan mahasiswa FK, dalam hal ini H-sebulan UAS -_-
Saya terkesima aja, bahwa kita sebenernya (kita sadari atau tidak) sudah menetapkan tujuan2 hidup, yang -kembali, disadari atau tidak- kita mulai berusaha untuk cari cara mencapainya. Namun kadang, ada yang merubahnya menjadi kenyataan, namun ada yang
stuck hanya sampai pada angan-angan. Saya selalu tertarik sama cara dokter ini menjelaskan, mengena. Beliau disiplin sekali, beliau bahkan sudah datang sebelum jamnya dimulai. Dan beliau yang selalu mengingatkan kami bahwa untuk merubah perilaku, tidak bisa instan, harus dari sekarang. Kalau mau disiplin, misalnya, tidak bisa nanti2 saja pas sudah jd dokter, harus dimulai dari sekarang.
Dan beliau begitu mengaitkan lecture public health ini dengan bagaimana kami membuat suatu program yang bermanfaat untuk kami. Menurut saya sih beliau keren banget. Dan saya tertarik sama -bahkan- semua slidenya dari awal sampai akhir. Mungkin untuk diimplementasikan di setiap sela kehidupan. Sangat mungkin kalau kita mau.
Well, ada satu hal juga yang menjadi perhatian saya, semacam
quotes of the day, bahwa profesi dokter adalah profesi yang tidak pernah menjanjikan hasil, hanya bisa menjanjikan proses. Maka dari itu, seringnya dokter bilang,"Kami akan usahakan yang terbaik, Pak, Bu" seperti di sinetron2. Ya, singkatnya sih hasilnya benar2 ditanggung Yang Maha Kuasa. Benar kan?
Dan puncak dari cerita saya kali ini adalah ketika lecture BHP, bioetik. Yang membawakan sebenarnya adalah teman seangkatan saya sendiri, namun disupervisi oleh seorang dokter, kepala departemen anestesi yang juga bekerja sehari-hari di ICU. Beliau juga begitu luar biasa buat saya.
Saya jadi sadar sekali bahwa pelajaran ini harus kami kuasai betul, di tengah prasangka banyak pihak kepada dokter-dokter Indonesia, mulai dari yang matre lah, malpraktik lah, dan bahkan yang baru-baru ini terjadi, 'ingin kebal hukum'.
Dokter kami menegaskan bahwa praktik kedokteran sebenarnya sudah punya
Undang-undang sendiri mengenai praktik kedokteran. Itulah landasan hukum praktik kedokteran, bukan KUHP. Saya sendiri (saat ini) sedang mencari tahu lebih lanjut mengenai hal ini. Namun, beliau pun mengatakan bahwa ketika seorang dokter melakukan praktik aborsi secara illegal, tidak akan seluruh dokter turun seperti pada aksi solidaritas kemarin, dokter juga tidak akan 'lari dari hukum' karena tindakan tersebut jelas2 tidak sesuai prosedur. Saya sangat awam terhadap hukum, jadi tolong koreksi ketika saya salah (atau mungkin salah dengar). Namun, menurut saya sangat masuk akal.
Aksi solidaritas dokter kemarin bukan hanya sekedar bentuk solidaritas dokter, namun menyangkut nasib dokter dan pelayanan kesehatan di negeri ini. Saya benar2 gak kepikir bahwa ketika praktik kedokteran telah dicampuri hukum, yang terjadi mungkin saja permintaan standar praktik yang lebih tinggi, mulai dari fasilitas kesehatan, yang mungkin belum dapat diakomodasi pemerintah. Dokter akan menjadi lebih berhati-hati, atau kasarnya
takut melakukan suatu tindakan, apalagi tindakan emergency. Padahal, keleluasaan melakukan tindakan, selama sesuai prosedur yang telah dipelajari, akan membuat dokter bisa membantu menyelamatkan beberapa nyawa. Hanya membantu, sekali lagi, Tuhan lah yang membuat seseorang tetap hidup.
Jadi, aksi dokter kemarin, disadari atau tidak, merupakan niat baik untuk kembali mengingatkan semua pihak akan jalan yang lurus, sesuai. (dan saya pikir, menyangkut nasib saya di masa depan)
Untuk kasus dr. Ayu yang ramai diperbincangkan, dokter kami hanya bilang bahwa jika profesor terhebat di seluruh dunia menangani kasus yang didapat dr. Ayu pun, hasilnya akan sama. Karena memang penyebab kematian pasien tsb adalah hal yang unpredictable, unpreventable. Tidak seperti pendarahan yang memang ada cara mencegahnya, pada kasus ini memang sulit diprediksi. Sederhananya, masyarakat harus mengerti apa yang disebut malpraktik itu. Jika alergi obat yang tidak diketahui pasien (apalagi dokter, karena dokter bukan cenayang) terjadi, apakah disebut malpraktik, padahal hal ini bisa terjadi kapan saja. Jika begitu, apakah kiranya dokter masih berani meresepkan obat? Masyarakat, termasuk media, dan instansi manapun, profesi mana pun, mestinya bisa membedakan, efek samping, komplikasi, dan malpraktik itu sendiri. Tidak serta-merta semua disebut malpraktik.
Ya. Mungkin ini juga salah kami sebagai
medical society yang kurang memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai hal-hal yang di luar jangkauan pengetahuan mereka, namun sekiranya bisa kan mengundang
yang mengerti untuk menjelaskan hal ini, wahai media massa, televisi, radio, infotainment? Bukan hanya sekedar menginginkan rating yang tinggi dengan menghadirkan orang yang senang memaki saja? Bisa kan?
Hal ini lah yang menggerakkan hati saya, entah mengapa bukan ingin menghujat mereka yang membenci profesi ini, namun justru ingin memperbaikinya.
Saya ingin tetap menjadi dokter, mengabdikan apa yang saya bisa abdikan, dan meluruskan citra dokter, bukan, bukan ingin dihormati dan apalagi kebal hukum, hanya ingin dianggap dan dipenuhi hak2nya sebagai manusia biasa. Ya, itu.
Dan lagi pada lecture kali ini yang berbentuk seminar, ada 2 topik yang begitu etik. Yang paling menarik bagi saya adalah basic life technology, alat bantu seperti ventilator, oksigen, dll. Pasti mahal kan? Saya akhirnya penasaran untuk bertanya bagaimana RSHS menangani pasien yang tidak mampu (terutama ketika emergency) yang membutuhkan basic life technology ini. Jawabannya begitu membanggakan buat saya. Sebenernya saya gatau ini boleh dipaparkan di sini atau tidak, namun intinya adalah, begitu luhurnya profesi ini, karena begitu menghargai kehidupan. Pasien yang datang, siapa pun, dari kalangan mana pun akan ditangani sesuai prosedur dan urusan biaya, seperti urusan belakangan. Bahkan disebutkan bahwa RSHS seperti memiliki piutang untuk pasien2 ini. Dan tugas dokter di sana begitu luhurnya dengan berusaha sekuat tenaga memilihkan treatment yang sesuai, dan bahkan ada usaha pribadi mereka untuk membantu pasien2 yang kurang mampu. Itu yang seharusnya media liput juga. Namun, dengan begitu singkatnya dokter kami berkata, "Untuk apa? Toh, kami punya pekerjaan yang banyak, tidak sempat mengurus begituan."
Jadi, intinya di sini, lecture hari ini adalah asupan saya untuk tetap menghargai profesi saya nantinya. Lecture hari ini semakin membuka mata saya bahwa saya bisa menjadi dokter sebenar-benarnya, se-ideal-idealnya, karena masih terlalu banyak dokter yang mulia, banyak hingga jika dikumpulkan, oknum2 yang begitu seringnya diliput media pun bisa kalah banyaknya. Hanya setitik mungkin (namun sayangnya seperti digeneralisasi). Ya, tulisan saya ini hanya tulisan anak fk tingkat 2 yang tidak tau banyak, hanya mengeluarkan apa yang tetap saya pegang, kebanggaan saya akan profesi ini, profesi saya nantinya, yang begitu luhurnya sehingga tidak dapat diterima sekiranya dibandingkan -atau bahkan dipandang lebih rendah- dengan profesi yang mengurus benda mati. Sekian.
nb: mohon maaf apabila ada kesalahan atau ada kata2 yang menyinggung, saya terbuka menerima pendapat, atau pun kritik. Tetap semangat dokter2 Indonesia!!