Wednesday, 8 January 2020

Cerita PTT -part 3

Di part 3 ini, entah dari berapa part yang ada, apa yaaaa, saya mau mengapresiasi diri saya aja deh.

Ada saat-saat saya beneran ngerasa capek banget, semua orang kerja tanpa pake otak rasanya, kok bisa sih dunia bersekongkol bikin kita stress? Pasien banyak, pasien jelek, makan boro-boro, sholat keskip, dimarahin spesialis, perawatnya boro-boro bantu malah nyusahin, temen juga malah bikin drama, mantan gue kok kayaknya idupnya lebih indah, gue kenapa sih milih PTT di sini; tapi ternyata setiap hari yang buruk akan selalu selesai; baik dengan senyuman maupun dengan tangisan.

I survived! Terima kasih yaaa Allah :')

Hidup di Anambas mengajarkan saya buat lebih sabar, menahan marah karena marah itu nggak menyelesaikan masalah, adanya kita yang nggak enak; malu sendiri.

Ketemu orang-orang yang mau menang sendiri, mengajarkan saya buat berkaca, jangan ngejudge; setiap orang usaha, baik yang baik maupun ngga, untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Pernah tuh saya nangis-nangis udah kayak digebukin sekampung, di tempat umum pula; merasa dizolimi, merasa kok manusia bisa jahat gitu... nyatanya ya itulah manusia, yang perlu kita maklumi fitur manusia yang melekat dengannya: menyelamatkan diri sendiri, kadang tanpa memikirkan orang lain. Eh mungkin mikirin ya, tapi ya gimana dong, pikirin diri sendiri aja deh pertama.

Hidup di sini membuat saya lebih toleransi sama diri sendiri, atas kelemahan saya, kelebihan saya; atas segala hal yang tidak sesuai harapan saya atau bahkan menyulitkan saya, tak lain disebabkan oleh diri sendiri. Belajar buat berkata yang baik sama diri sendiri, karena kita hidup dengan diri sendiri 24/7. Meski ngga akan pernah selesai mengenal diri sendiri, banyak hal baru yang saya temui dari diri saya. Di mana lagi didapat kalo nggak di tempat terpencil ini... Makasih ya Anambas!

Ada saat-saat saya seneeeeng banget, apalagi kalau bukan karena pantainya. Bisa upload foto bagus di instagram, kasih tau ke semua orang kalo segini bagusnya pantai Anambas, atau langitnya aja deh... rasanya masya Allah. Makasih yaa Allah, atas rejeki bisa mendarat di berbagai pulau nan indah di Anambas ini.

Meniti karier jadi model. Kemudian dihajar massa ๐Ÿ˜‚


Yang kedua di postingan ini.
Terselubung banget sih, hmmm tapi semoga suatu ketika kamu baca ya.

Dear, teman hidupku. (ciaaa)
Halo... hehe mungkin kita udah kenal saat saya ketik surat ini, mungkin juga tidak. Mungkin kamu sedang memikirkan hal yang sama?

Tentang sesuatu yang Allah sudah tuliskan untuk kita, bertemu dengan kondisi yakin satu sama lain, seperti doa saya (maafin ya, belum tekun banget sih doanya). Saya harap kamu sedang ada di dunia yang sama indahnya dengan saya. Saya harap kamu selalu menemukan apa yang kamu cari, meski tidak selamanya sesuai dengan yang kita harapkan.

Suatu waktu, teman saya pernah bertanya, apa yang saya harapkan dari suatu hubungan? Ketika itu saya belum tau. Iya juga ya, buat apa saya pengen cepet-cepet nikah kalau saya aja belum bisa deskripsiin apa sih yang saya pengen. 

Sampailah pada waktu di mana saya diajarkan sama Allah betapa nyamannya punya orang yang bisa kita ceritakan hari kita yang berat. Betapa nyamannya bisa disupport mengerjakan sesuatu yang saya suka. Dari situ, satu keinginan saya, saya deskripsikan.

Saya suka jadi dokter. Saat kamu baca ini, semoga saya masih menjalani apa yang saya suka ini. Bisa periksa, bisa mendiagnosis, bisa menatalaksana, bahkan sampai memulangkannya dengan sehat. Atau bagian yang buruknya, menyampaikan bad news, menyatakan kematian, bagian itu pun saya bisa terima.

Allah baik sekali, memberikan saya pekerjaan yang saya sukai, meski saya suka mengeluh saat capek, saat dimarahi, saat nggak mendapatkan yang saya mau; tapi Allah baik sekali, tetap membolehkan saya bekerja jadi dokter. 

Terlebih saat saya ada di kamar operasi, keluar dari kamar operasi, menulis laporan operasi, bertemu pasiennya lagi setelah operasi, ketemu pasiennya lagi saat kontrol di poli. Mungkin itu yaaa yang saya pikir akan saya ceritakan sama kamu dan anak-anak nantinya.

Akhirnya sedikit bisa saya deskripsikan, 'rumah' bukan hanya bangunan berisi orang yang kita pilih untuk tinggal bersama; rumah adalah perasaan luas, lapang, di tengah kesempitan dunia dan isinya; perasaan diinginkan, perasaan disupport, perasaan berharga karena diceritakan keluh kesah dan bahagianya orang.

Semoga kita bisa jadi rumah satu sama lain ya...

Semoga kamu sehat-sehat di sana...

Dear, kamu yang sudah Allah tulis untuk bersama aku nantinya...





hahahahahaha cheezy bgtttt sbl...
gpp, i still love u anyway, self๐Ÿ˜‹

No comments:

Post a Comment

Written in the Stars

Pengen serius dulu meski isinya sebenernya bakal jadi cheesy pisan plus menertawakan diri dalam hati sih, kenapa bisa ada dalam posisi ini?...