Saturday, 15 October 2016

Stase Anestesi

Hai...
Saya skip nulis semenjak Stase Ilmu Kesehatan Masyarakat ya berarti, wah lama juga ya...
Ya, postingan terakhir saya adalah saat stase Famed, kemudian IKM, dan Obgyn. Stase favorit saya. Entah kenapa ya, mungkin kalau ditanya kenapa suka, karena ilmunya menurut saya menyenangkan, jelas, kerjaannya juga jelas, meskipun banyak tindakannya dan saya ngga jago2 amat sih, tapi cukup menyenangkan dan saya seneng menjalaninya.

Obgyn menurut saya menyenangkan karena bisa membuat saya "merasakan" hal yang sama seperti seorang ibu hamil, meskipun nyerinya sih ngga ya haha, tapi rasanya seneng aja, ternyata seorang anak itu mostly beneran bisa membuat ibu yang kesakitan saat melahirkan kemudian dijahit misalnya, menjadi senyum, ngga kerasa aja gitu seolah2 barusan dia abis teriak2 haha. Banyak ketemu sama konsulen2 hebat dari rumah sakit jejaring. Sayang sih kalo saya pikir2 kenapa ga ditulis ya...

Well, sehabis Obgyn, saya masuk stase Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Awalnya tertekan sih, karena belajarnya hafal mati dan buanyak sekali, tapi di akhir mulai ngerasa before-after stase ini, wah mantep si berasa pinternya. Semoga masih inget ya sampai jadi dokter nanti.

Selanjutnya, ini stase yang membuat saya ingin menulis.

Stase Anestesi dan Terapi Intensif. Sesuai namanya, isinya adalah belajar ttg bius-biusan, tapi ngga hanya itu, terutama sih yang kepake sama dokter umum adalah penanganan airway-breathing-circulationnya gitu. Di stase ini ngejar tindakan di Operation Kamer (OK). Tindakannya intubasi, pasang infus, dan monitoring sih sisanya.

Well, saya sebenernya belom pernah intubasi dari awal sampe akhir banget, infus pun baru 2 kali. Nah ini nih yang saya pelajari di sini --push urself to ur limit-. haha saya suka takut melakukan tindakan soalnya, jadi aja sering ngga dapat. Kalo infus sih dapet, tapi sekalinya berhasil jadi jumawa, ah udah bisa, padahal pas ulang lagi malah gagal.

Seperti hari ini, saya abis jaga OK, mau cerita aja sih, ada 2. Yang pertama adalah tentang mencoba infus yang hhhhhhh kenapa sih berantakan bangeetttt kyk ga pernah ajaa..... ya gapapa sih ya namanya juga belajar, tapi yang bikin terharu adalah saat chief resident (CR, dokter yang sedang ambil spesialis, tingkat senior) mau2nya ajarin anak bawang ini, yang berantakan banget, tapi tetap sabar sampe saya bisa. Oiya lupa bilang, di stase ini, semua orang baik, BANGET. Sampe perawatnya pun baik, mostly, yah jangan harap semua sih, cuma beneran ngga nyangka aja semuanya baik banget. Nanti disambung sama kebaikan2 yang lainnya. Intinya pagi ini saya mau makasih sama dokter CR ini, baik banget dok, insya Allah ilmunya ngga akan saya lupa.

"Yak, tarik jarumnya sedikit, masukin selang sedikit, tarik lagi sedikit, masukin selang, yak lagi.... jangan ditarik semua......, yah hubungin... putar, yakkk...aduh"

Cerita kedua adalah tentang kematian. Iya, karena emang stase ini mengusahakan kebutuhan dasar manusia dalam hidup banget yaitu: napas, saya sering menemui kematian di sini. Saya ngga bisa deskripsiin perasaan setiap saya melihat kematian, yang ada cuma.... ya Allah kelak akan datang juga saatnya untuk saya, keluarga saya, dan orang-orang yang saya sayang. Kelak saya mungkin jadi ibu itu, yang meraung2 atau nangis meratapi sebuah jasad, yang... saya dulu pernah punya kenangan sama orang ini.

Atau saya yang liat diri saya sendiri.


Kematian itu sesuatu yang pasti ya. Bahkan matematika masih ada kata tak terhingga, masih bisa pake pendekatan. Tapi mati itu pasti, dan saat waktunya udah dateng, di mana pun dirawatnya, oleh siapapun itu, akan datang juga.

Pagi ini -baru bangun tidur, jaga kok tidur ya-, saya melihat anak muda, umur sekitar 17-20 tahun, laki-laki, korban kecelakaan lalu lintas, yang mau masuk OK, tiba-tiba henti napas, segeralah dokter melakukan resusitasi jantung paru, setelah sekitar 45 menit, belum ada tanda-tanda sirkulasinya kembali, akhirnya dokter menyatakan pemuda ini sudah tidak ada. Ibunya, bapaknya, tante, dan kakaknya menangis sejadi-jadinya.

Seorang ibu dan ayah yang kehilangan buah hatinya. Bapaknya mencoba tetap tegar, namun mengutuki rumah sakit, mengapa tidak bisa menolong anaknya. Perawat dan dokter penanggungjawab mencoba menenangkan beliau.

Beliau berkali-kali bilang, kehilangan seorang anak. Jika mengikuti five stages of grief, bapak ini begitu cepat melewati: denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance.

Tidak percaya anaknya sudah tiada. Marah terhadap rumah sakit, Mencoba menanyakan, apa arti alarm dari mesin EKG itu berarti, apakah anaknya masih ada? Depresi mengapa bisa sampai kehilangan satu dari keempat anaknya, dengan sangat cepat. Dan sebagai kepala keluarga, harus bisa menjadi yang paling kuat, dengan menerima bahwa ini adalah kehendak Yang Kuasa, hingga tidak bisa dicegah  oleh siapa pun, ini waktunya.

Dan fase itu seolah bolak-balik dirasakan bapak itu, saat sudah menerima, perasaan marah terhadap pelayanan rumah sakit masih muncul, dan begitu seterusnya. Beliau hanya ingin cepat sampai rumah, agar bisa menguburkan anaknya pagi hari.


Anak yang dicintainya, sejak kecil, mungkin kemarin masih bisa ia ajak bicara, kini telah diam tak bernyawa.

Saya turut berduka cita, Pak, Bu.

Besar ya pelajarannya. Saya bersyukur sekali diberi pelajaran sebesar ini oleh Allah, padahal semalam saya tidur karena memang tidak ada pasien naik OK.

Ya, kira-kira itu yang mau saya share, yang mau saya ingat terus hingga nanti saya menjadi dokter, yang mungkin sudah hal biasa saya melihat orang lain meninggal dunia, tapi kejadian yang biasa ini ternyata adalah kiamat sughra untuk orang lain, saya harus tetap ingat itu.

Ya, secara umum stase anestesi ini adalah salah satu stase favorit saya, semua orangnya baik-baik dan mau ngajarin, semoga diberi kemudahan dalam studinya ya Dok. Doakan senin ujian!


No comments:

Post a Comment

Written in the Stars

Pengen serius dulu meski isinya sebenernya bakal jadi cheesy pisan plus menertawakan diri dalam hati sih, kenapa bisa ada dalam posisi ini?...