Wednesday, 11 February 2015

Buntu

Seperti apendiks, yang sering dibilang usus buntu. Sebenarnya tidak buntu-buntu amat, masih ada jalan kembali menuju usus besar. Normalnya pun defense mechanism apendiks sendiri akan membuat benda asing, atau bahkan akumulasi lendirnya sendiri akan keluar melalui lubang kecil itu. Menuju ke tempat yang seharusnya. Namun kadang, jalan itu tertutup, oleh fecalith, oleh serabut serat, oleh sesuatu yang tidak diketahui apa. Tapi ada yang menutup, apendiks yakin itu ada. Kelak, akan berakumulasi-lah semua, sementara kantung itu sudah tidak muat, bahkan untuk menampung lendirnya sendiri, lendir yang bahkan ia produksi. Apendiks tahu suatu saat ia pasti meledak. Pasti. Jika saja lubang itu tidak segera terbuka, pastilah ia semakin dipenuhi oleh sel darah putih, yang akan menganggapnya sebagai musuh. Merah-bernanah-gangren. Sampai menyebar ke mana-mana, sampai meledak, barulah sekitarnya tahu, bahwa selama ini ia sudah tidak muat lagi menampung semuanya.


Saya sadar ada yang salah, saya tidak tahu apa. Saya cuma berharap jalan itu terbuka. Saya sebenarnya tahu, saya bisa berusaha membuka jalan itu, tapi entahlah, rasanya otot ini tidak cukup kuat untuk membukanya sendiri. Saya butuh kekuatan Maha Besar untuk membukanya, menuntun saya kembali ke jalan yang seharusnya, ke jalan yang sejak dahulu saya tangisi, bukan, bukan karena tahu itu akan pedih, tapi karena tahu itu worth it.


Dulu, rasanya otot saya cukup kuat untuk berkontraksi layaknya usus yang punya peristaltik, cukup kuat hingga saya rasakan mulai berkelok-kelok. Jalannya tidak lurus, saya tahu itu. Yang saya tidak tahu adalah suatu saat nanti saya akan bingung bagaimana menggerakkan otot ini lagi. Semacam ganglionnya hillang tiba-tiba seperti Hirschprung's disease. Namun, ini tidak congenital kok, tidak perlu dioperasi. Masih ada di sana, cuma perlu 'dibangunkan'. Mungkin sedang lelah bekerja.


Sudah semester 6 dan pengetahuan saya masih sangat sedikit, bahkan mungkin hanya beberapa tingkat dibanding pengetahuan biologi anak SMA. Saya cuma merasa kuliah di sini bebannya begitu besar, beban sks, beban moral, beban. Jika malas belajar, bukan cuma nilai jelek, prognosis pasien juga bisa jelek. Your future patient.


Sebenarnya tulisan ini bermula dari lab activity patologi anatomi. Seru sekali karena dokternya sangat berdedikasi untuk mengajar, namun di akhir, nilai pre test kami disebutkan paling buruk selama lab pa tersebut. Ini kedua kali. Minggu lalu dimarahi juga, materinya mikrobiologi. Kok ga kapok ya? :') percayalah saya udah belajar kok buat minggu ini, tapi berarti belum maksimal ya.


"Kadangkala, perkara yang sama itu akan berulang-ulang kali terjadi, hingga kita betul-betul belajar darinya."

#edisisistemgastrointestinal maaf buat tulisan yang aneh ini, maaf juga kalo patogenesisnya salah haha

No comments:

Post a Comment

Written in the Stars

Pengen serius dulu meski isinya sebenernya bakal jadi cheesy pisan plus menertawakan diri dalam hati sih, kenapa bisa ada dalam posisi ini?...